Itu bukan merah! Aku mengumpat.

Merah adalah warna yang paling mudah untuk dikenali. Tak mungkin aku dan mataku salah. Membedakan warna merah dengan warna lainnya adalah semudah menghitung penjumlahan satu digit. Tapi orang-orang mengatakan itu adalah merah. Kenapa? Bagaimana bisa? Bahkan Aloda, laki-laki tua, berjenggot, beruban, kurus, bermata gelap dan berkulit keriput mengatakan itu adalah warna merah.

Aloda adalah guruku. Ia mengajariku cara membaca dan melihat sepuluh tahun lalu. Selama itu tak pernah sekalipun aku meragukan setumpuk kata bertuahnya. Hanya saat ini. Dengan lantang, di depan 32 orang, termasuk aku, ia mengatakan, “Ini adalah merah.”

“Ya. Itu adalah merah!” Ucap seseorang di sebelahku.

“Merah!”

“Itu merah. Merah semerah-merahnya!”

Orang-orang bersahut-sahutan, dengan keras, bahkan ada yang berdiri dengan tangan kiri terkepal ke atas. Seperti persidangan, mereka memakai jas, sepatu pantofel klimis, berdasi dan mata yang menyala. 31 orang dan guruku sepakat, itu adalah merah. 

Pisang! Itu bukan merah.

“Saudara-saudara!” teriak Aloda keras, mendiamkan burung berkicau.

“Apakah kita sepakat bahwa itu adalah merah? Barang siapa yang sepakat, silahkan berdiri.”

Dengan cepat orang-orang berdiri. Serentak. Cepat. Hanya aku yang tetap duduk.

“Hai, Kau! Wanita cantik berleher jenjang. Kenapa kau masih duduk?”

Apel! Aloda mengejekku dengan mengatakan cantik padaku. Aku punya nama.

“Apa kau tidak sepakat bahwa itu adalah merah?” Aloda turun dari mimbar dan berjalan menuju kursiku. Orang-orang menatapku geram, marah, dan dengki. 

Salak! Aku harus bisa menjelaskan bahwa itu bukan merah. Waktuku tak banyak untuk berfikir. 9 langkah lagi Aloda akan sampai di depanku. Atau aku berdoa saja, agar Tuhan menyelamatkanku? Berdoa apa berfikir? Jika berdoa, akan menguntungkan jika dikabulkan, dan sia-sia bila diacuhkan. Jika berpikir, akan percuma jika tak sempat dan memuaskan bila tepat waktu.

“Kenapa kau tak berdiri?” Oh. Aloda telah di depanku. Hanya meja dengan lebar 50cm yang memisahkanku dengannya. Dengan jarak sedekat ini, suaranya akan memekakan telinga, tatapan matanya akan meremukkan saraf, dan kharismanya akan mampu menamparku dan membuangku jauh-jauh dari kursi yang kududuki.

“A..a..ku..” Aku merasakan huruf-huruf sedang berusaha tersusun di dalam otakku, melewati saraf yang terurai sedemikian rumit. Aku juga merasa ada ganjalan dalam saraf yang membuat huruf-huruf itu tak mampu tersusun. Kebodohan, ketakutan, pengalaman, dan kemalasan.

“Kau tak sepakat bila itu adalah merah?” Adola berkata lembut, tapi matanya seakan masuk kedalam sarafku dan mengacaukan huruf-huruf yang tampak sebentar lagi belum tersusun.

Mata kita saling pandang. Kulitku dan indera lain memandang 31 orang lain. Panas dan menghabiskan energi.

“Itu bukan merah.” Ucapku pelan.

Seketika suara guntur dan halilintar menari-nari, mengindahkan telingaku. Petir menyala-nyala dengan cepat. Nafasku terhenti sesaat. Hening. 31 orang dalam ruangan ini menatapku, menelanjangiku.

“Apa maksudmu?” tanya Aloda melengking.

“Itu bukan merah. Itu bukan merah.”

“Kau Gila! Semua orang di ruangan ini sepakat bahwa itu adalah merah.”

“Tidak. Itu bukan merah!” Oh Tuhan. Saraf otakku telah memaksa alat ucapku untuk bicara seenaknya.

“Itu seperti apel. Semua orang tahu bahwa apel itu berwarna merah.” Telingaku mendengar seseorang berteriak dan bicara dengan cepat.

“Itu seperti lampu apil di persimpangan jalan.” Dengar telingaku. 

“Itu seperti api. Merah!”

“Itu seperti 

Telingaku mulai tak sempat menangkap semua kata yang bertebaran bebas di dalam ruangan ini. 

“Hai wanita, seluruh dunia pasti sepakat bahwa itu adalah merah. Bagaimana kau bisa menyangkal itu bukan merah?” Aloda semakin mendekatkan mukanya pada mukaku. Badanku bergetar. Tapi getaran itu membuat sarafku semakin liar. Mataku menyala,

“Bagaimana mungkin kalian semua mengatakan itu merah? Kita semua tahu bahwa merah itu tak ada. Di dunia ini tak ada merah. Api, lampu apil, atau buah apel dan yang lain bukanlah merah. Merah hanya ada di Indonesia. Merah hanya kata. Merah adalah merah. Dan itu pastilah bukan merah…. jika memang itu merah, kita tak tahu pasti bagaimana merah itu. Selain itu, warna hanya adalah relatif, semua adalah relatif, jika ada cahaya kalian akan mengatakan itu adalah merah, tapi jika gelap, apakah kalian masih akan mengatakan itu adalah merah meskipun mata kalian memandang itu adalah hitam pekat. Merah adalah…..”

Prakk..!!

Oh. Adola menamparku. Aku terjatuh.

“Bunuh dia! Bunuh dia!” telingaku mendengar.

Apakah dia adalah aku? Atau….

Ah. Badanku terangkat. Aku merasakan puluhan telapak tangan menyentuh bagian punggung, pantat, kaki, hingga kepala bagian bawahku. Terasa sakit. Apakah dia adalah aku? Jangan bunuh dia. Bunuhlah aku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here