Dilema Integritas Pengguna Shopee, Dunia Buku — Edi Iyubenu pada kata pengantar buku Aku, Buku & Masa Depanku menuliskan bagaimana masa depan perbukuan di toko daring. Ia mencatat tiga poin penting: 1) sistem pemasaran buku menjadi pendek alur. 2) tak terbatasnya usia buku, dan 3) pewujudan pemasaran kreatif para bakul buku. Bahkan Edi dengan optimis menyatakan bahwa suatu saat akan ada mekanisme perkara gratis ongkos kirim. Namun masa depan yang bagus itu juga menyimpan konsekuensi besar: integritas. Di satu konsumen, hanya melihat harga, tampilan luar atau foto unggahan dan deskripsi produk. Sementara isi dan bentuknya (fisik produk) perkara selanjutnya. Konsumen tidak tahu pasti bagaimana produk yang akan dia beli dari sebuah toko secara riil, dalam hal ini bajakan atau tidak.

Dari sudut pandang ekonomi, Integritas penjual sebagai ‘pencipta penawaran’ dalam menjual produk menjadi yang utama. Integritas itu ‘minimal’ berupa kejujuran, misalnya pada deskripsi dikatakan bahwa buku yang dijual adalah buku bajakan. Atau mungkin menggunakan deskripsi ‘etis’ dengan menggunkan kata lain, misalnya POD, Repro, KW SUPER. Beberapa kali saya temukan toko buku bajakan, secara ‘bangga’ memberikan keterangan produk merupakan Bajakan. Paling sering, “BUKU NON-ORI, TAPI ISINYA SAMA SEPERTI ASLI.”

Jika ada toko buku yang dengan baik hati melabeli produknya sebagai produk bajakan, maka yang menjadi persoalan selanjutnya adalah pembaca atau pembeli atau konsumen. Integritas mereka diuji. Jika sudah tahu itu buku bajakan, repro, atau KW Super, lalu pembaca itu masih membeli buku tersebut, berarti integritas pembaca perlu dipertanyakan. Banyak ditemukan di Shopee toko buku itu menjual produk bajakan, dengan ‘etis’ dia memberi keterangan produk non-ori. Pada toko buku jp_books dengan nama produk “Novel DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN – TERE LIYE”.

Di dalam deskripsi disebutkan “SPESIFIKASI PRODUK: Produk NON ORIGINAL. Produk BARU dan BERSEGEL TOKO.

Kualitas Produk mendekati originalnya. Tt : Produk ini tetap sama dari originalnya dari ISI , HALAMAN , COVER , dan lain lain . Yang membedakan hanya jenis kertas nya saja . Ingat ya gan ??!* harga murah kami bukan berdampak pada kualitas produk , hanya saja untuk memenuhin prioritas dari segi ekonomi dan kegunaan agan dan sista *

Namun nyatanya, produk itu sudah terjual lebih dari ratusan. Dan penilaian produk itu 4,6 yang berarti bagus. Komentar dan pembeli produk ini cenderung positif, misalnya: “Ga pernah nyesel sih belanja disini dan berlangganan disini Kualitas produk sangat baik. Harga produk sangat baik. Kecepatan pengiriman sangat baik. Respon penjual sangat baik.”

Namun nyatanya tidak semua produk buku bajakan itu mendapat keterangan sebagaimana adanya. Banyak buku bajakan yang dijual di Shopee tidak diberi keterangan bajakan. Misalnya saja produk “Novel SERBA 20an BestSeller, Wattpad, Tere Liye, Boy Candra, Risa Saraswati, Fiersa Besari” dari toko ad_bookstore yang sudah terjual 976 (23 Mei 2019). Di deskripsi tidak ada keterangan produk-produk itu orisinal atau bajakan. Hanya disebutkan pilihan novelnya saja.

Dan banyak juga ditemukan, toko buku yang melabeli produknya dengan label/variasi original, tapi nyatanya tidak (dengan asumsi harga asli dan harga jual terpaut jauh sekali. Misalnya saja novel Komet Minor, di Mall Buku dijual dengan harga 18.000 (Belum Ongkos Kirim. Harga asli 21.000, diskon 14%. Udah bajakan, didiskon pula. Hehe~). Penilaian produk itu 4,8 dari ratusan penilaian. Entah pembeli merasa ‘bodo amat’ dengan orisinalitas, atau memang tidak tahu itu buku bajakan atau tidak (karena di variasi ada 2 jenis, Original dan Biasa), pembeli merasa ‘bangga’ membeli buku tersebut, terbukti dengan banyaknya akun yang memberikan komentar positif dan bintang lima. Misalnya saja, ada akun yang memberi penilaian: 1. Kualitas Produk Produk Sangat Baik, 2. Produk Original; 3. Harga produk sangat baik. Di samping itu, dia menambahkan dengan mengomentari “Kualitas kertas baguussss, nyaman buat mata pas dibaca…. Gooooddddddddd, harga selisih sedikit mending beli yang bookpaper ajaaa.” Bahkan ada akun yang megomentari “Jozzz, yg 20rb-an aja kertase bgs.”

Jika diperhatikan, maka ada tiga jenis toko buku bajakan di platform Shopee: 1) Ada toko yang secara ‘etis’ memberi deskripsi pada produknya bahwa produk itu “Non-Ori”, tapi produk itu tetap laku, misalnya kasus toko jp_books; 2) Ada toko yang ‘bodo amat’ dengan orisinalitas, produknya juga laku ad_bookstore yang produknya hampir terjual 1000 buku; dan 3) Ada juga yang mengatakan produk itu ‘Original’ meskipun sulit untuk menerima itu produk orisinil jika melihat harga, tapi produk itu juga laku keras, seperti pada kasus Mall Buku, sehingga pembeli merasa membeli buku orisinal dengan harga 20.000.

Dengan demikian, dilema integritas pengguna Shopee, dari sudut pandang Pengguna Shopee, antara pembeli dan penjual buku bajakan ‘kurang’ terdapat integritas. Kata ‘kurang’ itu dimaksudkan karena memang di Shopee banyak juga toko buku yang menjual produk orisinal, misalnya penerbit-penerbit yang membuka toko buku daring sendiri. Dan banyak juga pembeli yang dengan cerdas membeli produk asli dari penerbit-penerbit itu. sebagai contoh, Divapress, Berdikari, dan mungkin yang murni toko buku, Social Agency Baru.

Lalu bagaimana untuk mengurangi atau menyelesaikan persoalan integritas tersebut? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, atau tepatnya tidak berhak menjawab itu. Sulit. Kompleks. Tapi satu yang mungkin bisa dilakukan, meminta secara baik-baik kepada platform Shopee untuk memanfaatkan hak istimewanya menghapus barang-barang yang melanggar HKI tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, di satu sisi, Shopee ‘berhak’ menghapus konten atau produk yang melanggar hak cipta (poin 1.2). Di sisi lain, Shopee ‘tidak wajib’ untuk menghapus konten atau produk tersebut tersebut (poin 6.4).

Tulisan Dilema Integritas Pengguna Shopee ini pertama kali ditulis untuk Kataloka.org.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here