Dulu Gresikku Tanpa Moncong Berasap, Kliping — Siap tidak siap, industri juga akan datang, kalau mendengar nyanyian nasyidah ria yang berjudul tahun 2000, maka kita akan menerka bagaimana manusia berkumpul dengan mesin bahkan tidak bisa hidup tanpanya. Pak Kuntowijoyo dalam buku Paradigma Islam juga mengatakan bahwa modernisasi yang ditandai dengan industrialisasi merupakan perkembangan sebagai sunnatullah yang tidak bisa dihindari.

Perubahan-perubahan tentu saja akan menyertainya walaupun setiap daerah memiliki tingkat dan corak yang berbeda-beda. Akan tetapi, yang perlu diketahui bahwa tidak setiap daerah mengalami atau tersentuh dengan proses industrialisasi ini. Entah itu dikatakan beruntung atau malah menjadi bencana bahwa kota yang terkenal dengan sebutan kota santriini sekarang sudah terjamah dengan proses yang oleh Karl Polanyi disebut sebagai tenaga mesin-mesin setan tersebut.

Proses kesiapan menyambut adanya campur tangan mesin dalam sistem ekonomi masyarakat Gresik menjadi hal yang paling penting, kenapa kota tersebut sekarang ini berubah menjadi lahan yang ditanami gedung-gedung bermoncong yang tidak henti-hentinya mengeluarkan asap. Bagaimana proses sebelum Gresik menjadi kota industri sungguh menarik untuk diketahui.

Gresik pada era-era awal Islam muncul di Nusantara, kota ini merupakan pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh berbagai saudagar dari berbagai belahan negeri. Bukan hanya itu, ramainya Gresik juga dilatarbelakangi oleh para pencari ilmu atau santri yang ingin mengais ilmu agama dari pondok yang diasuh oleh ulama yang terkenal dan sekaligus salah satu anggota Wali Songo, yakni Syeh Maulana Malik Ibrahim dan kemudian Sunan Giri.

Kebesaran pelabuhan Gresik masih terlihat pada bangunan yang ada di depan kantor Polres Gresik walapun sekarang sudah terpetak-petak menjadi perkantoran. Coba saja tanyakan pada warga sekitar, itu bangunan apa? mereka akan menjawab itu Loji, kata yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu kantor dagang sekaligus benteng. Selain itu, ada juga galangan kapal yang telah mewariskan secara turun temurun keterampilan sampai anak cucu sekarang seni pembuatan perahu kayu dengan lem. B. Schrieke seorang sosiolog indonesia jaman dulu mencatat, bahwa beras Makasar, kain katun Bali, Timah Karimata, ikan asin dan cabe Panaroekan merupakan diantra komoditi yang hilir mudik memasuki Gresik melalui pelabuhan Gresik. Kalau dibayangkan sungguh besar perputaran uang yang terjadi di kota ini zaman dulu.Pantas saja Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah dan Belanda mati-matian ingin menguasainya.

Perekonomian warga Gresik selain dari pelabuhan juga berasal dari hasil pengelolahan tambak ikan atau udang dan juga penjualan sarang burung walet.Mata pencaharian mencari sarang burung merupakan pekerjaan yang penting. Tahun 1930 dalam catatan residen Gresik memberitahukan bahwa dari pelabuhan Gresik dieksport sarang burung walet.Adapun tambak di Gresik merupakan yang terbesar di Jawa Timur dengan hasil ikan dan udangnya, karena Gresik merupakan kota pantai yang berbatasan langsung dengan laut utara. Pada masa Majapahit, Gresik merupakan daerah yang pengahasil dan penyedia terasi bagi kerajaan tersebut, tidak mengherankan secara khusus ditempatkan petugas khusus untuk menarik upeti yang disebut dengan Patih Tambak. Bahkan ini juga berlangsung sampai masa Belanda yang memperhatikan betul pertambakan ini dengan menyediakan bank kredit bagi petani, Nederlandsch Indische Escomto-Maatschappij. Selain bisa dilihat begitu mandirinya masyarakat Gresik esensi kuat yang terkandung dalam tambak adalah tradisi gotong royong dalam membuat tambak yang sebelumnya dilakukan penentuan secara bersama tanah-tanah untuk digarap sebagai lahan pertambakan.

Banyak para peneliti mengatakan bahwa pendirian Pabrik Semen Gresik tahun 1957 sebagai embrio awal kota ini bertransformasi menjadi kota industri.Memang benar, tetapi yang perlu dipahami bahwa mental mandiri swasta itu sebenarnya ada semenjak masa-masa sebelumnya. Dibuktikan dengan centra-centra usaha di beberapa kawasan Gresik. Di Gresik terdapat pusat penyamakan kulit, perusahaan batik, pengecoran tembaga, tukang mas, perusahaan rotan, dan usaha kopyah, sabuk terompah, dan perusahaan limun. Di distrik Cerme terdapat kerajinan bambuyang membuat bakul, sangkar dan sebagainya. Pembakaran kapur dan kerajinan gerabah terdapat di mana-mana. Selain itu, di sepanjang Gresik utara tepatnya di kabupaten Panceng terdapat pusat pembakaran kapur yang berasal dari Gunung Kapur yang di oleh menjadi bahan dasar bangunan yang usianya cukup tua. Kali Miring menjadi jalur sungai yang sangat penting dan juga di Bengawan Solo terdapat usaha penyebrangan. Oleh karena itu, sangat lah dimungkinkan berita tentang awal mula berdirinya Pabrik Semen pengambilan tenaga kerjanya sebagian besar bukan dari penduduk Gresik. Bukan karena ketimampuan warga Gresik, namun karena mereka yang memiliki etos kerja lebih memilih menjadi wirausahwan dari pada harus menjadi buruh di pabrik tersebut. baru tahun 1970 an perubahan sikap pandangan negatif pada perusahaan dimulai ketika lahan-lahan pekerjaan yang semakin sempit, mengaharuskan mereka untuk menerima bekerja sebagai buruh pada pabrik-pabrik.     

Terlepas dari semua pengaruh yang ditimbulkan oleh hadirnya gedung-gedung bermoncong asap di Gresik, tidak bisa dinafikan bahwa implikasi positif juga bisa dirasakan masyarakat Gresik. Paling tidak sekarang adanya pembangunan pada beberapa sektor juga mengalami kemajuan, seperti pembangunan rumah sakit yang telah memenuhi standar, sarana bangunan pertokoan, sekolah, dan pendirian sarana olah raga. Sedangkan secara adsminstrasi politik, yang mana Gresik dulu dari tahun 1934 merupakan daerah yang berada di bawah Surabaya, mulai dari tahun 1974 mendapatkan kembali statusnya sebagai kabupaten tersendiri. Industrialisasi di Gresik dengan gedung-gedung pabrik sekarang menjadi pemandangan setiap hari dengan mobilitas kota yang tidak pernah berhenti. Setiap jam terlihat hilir mudik para pekerja yang harus bertarung dengan waktu demi mengejar target kerja untuk menyelesaikan stok produksi pada masing-masing pabrik. – End Gresikku Tanpa Moncong Berasap

Tulisan Gresikku Tanpa Moncong Berasap diambil dari Buletin GAPURA, Edisi Desember 2014. Hak cipta tulisan ada pada penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here