Gender dan Industrialisasi Gresik, Kliping – Sekitar abad ke-18, dunia bagian barat seperti Eropa dan Amerika mengalami revolusi industri. Revolusi industri merupakan peralihan dalam penggunaan tenaga kerja, yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia digantikan oleh teknologi. Berawal dari dunia barat revolusi ini kemudian menyebar ke Negara-negara lain. Setelah adanya revolusi ini, industry semakin banyak dan berkembang di pusat-pusat kota sehingga mengakibatkan adanya urbanisasi, karena kegiatan industri dinilai menjanjikan kehidupan yang diharapkan oleh orang-orang desa. Dengan adanya urbanisasi, jumlah pekerja industri semakin melimpah tiap tahunnya, padahal peran pekerja manusia sudah banyak yang digantikan oleh teknologi, sehingga upah pekerja menjadi murah. Para pengusaha, juga banyak memilih pekerja perempuan dan anak karena upahnya lebih murah.[1]

Kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia, ketika mengalami krisis ekonomi, muncul promosi gaji buruh murah untuk menarik minat para investor dengan melibatkan perempuan sebagai pekerja. Untuk mempertahankan desakan ekonomi rumah tangga, banyak perempuan yang masuk dalam pekerjaan industry meski dengan gaji yang lebih murah.

Pemberian upah pekerja perempuan yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki ini disebabkan adanya stereotip dan marginalisasi yang diberikan kepada perempuan akibat masih kentalnya budaya patriarki saat itu.[2] Perempuan diidentikkan dengan sifat patuh dan tidak banyak menuntut, ia bisa ditempatkan pada sektor pekerjaan yang tidak terlalu penting, sehingga ia bisa dibayar dengan murah, meskipun ia memiliki kemampuan kerja yang lebih. Stereotip dan marginalisasi yang diberikan kepada perempuan dalam sektor industri ini, kemudian menimbulkan ketidakadilan yang semakin ekstrim. Sebagaimana yang diberitakan dalam berbagai media, pekerja perempuan seringkali mendapat pelecehan atau bahkan kekerasan seksual.

Perlakuan terhadap perempuan dalam sektor industri tersebut disebabkan adanya ketidakadilan gender. Gender merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh kondisi sosio-kultural dan bukan merupakan kodrat Tuhan. Gender berbeda dengan seks yang merupakan kodrat Tuhan dan tidak dapat diubah. Gender diciptakan oleh laki-laki dan perempuan melalui proses sosial-budaya yang tidak tetap, tetapi berkembang dan berubah pada setiap ruang dan waktu.[3] Perbedaan gender sebenarnya bukanlah suatu persoalan yang perlu digugat atau dipermasalahkan, tetapi akan masalah ketika perbedaan tersebut memunculkan ketidakadilan. Sebagaimana yang terjadi pada kondisi perempuan pada sektor industri, perempuan ditempatkan pada suatu bidang pekerjaan karena melihat ‘kodrat sosial’ perempuan, bukan melihat pada kemampuan yang dimiliki.

Gender di Industri Gresik

Sebagai salah satu kawasan industri utama di Indonesia, Gresik memiliki beberapa industri besar seperti Semen Gresik, Petrokimia Gresik, Maspion, dan Wings Food. Kehadiran industri besar tersebut tentu memberikan peluang pekerjaan baik bagi penduduk Gresik maupun dari luar. Industri tersebut juga telah membuka peluang kerja bukan hanya kepada lelaki tetapi juga kepada perempuan. Di pabrik Semen Gresik misalnya, dari data tahun 2010, pekerja laki-laki berjumlah 1899 orang dan pekerja perempuan berjumlah 111 orang.[4] Dalam persoalan penempatan bidang kerja, pihak perusahaan memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk bekerja di perusahaan berdasarkan kemampuannya[5], sehingga upah yang diberikan juga disesuaikan dengan pekerjaannya, bukan didasarkan kepada jenis kelaminnya.[6] Semen Gresik juga memberikan fasilitas jaminan sosial dan kesehatan yang sama terhadap laki-laki dan perempuan.[7]

Di perusahaan besar lain, yaitu Petrokimia Gresik, juga membuka kesempatan kepada laki-laki dan perempuan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Perusahaan tersebut juga menempatkan pekerjanya dalam kedudukan yang sama.[8] Perjanjian kesepakatan bersama antara pekerja dan perusahaan didasarkan pada Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Dengan mengacu kepada undang-undang tersebut, Petrokimia berkomitmen untuk membertikan perlindungan kepada perempuan dengan memperhatikan kondisi biologisnya.

Pekerja perempuan diberikan waktu kerja yang aman, cuti haid selama 2 hari pertama, cuti melahirkan selama 3 bulan, dan cuti keguguran kandungan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, untuk mengambil cuti haid, pekerja masih dipersulit persoalan persetujuan dari dokter perusahaan. [9]

Dengan melihat dari sikap kedua perusahaan tersebut, maka perbedaan sex dan gender dari pekerja perusahaan tidak mempengaruhi kedudukannya dalam memperoleh bidang kerja.  Penempatan pekerjaan tidak lagi dilihat dari jenis kelamin, akan tetapi berdasarkan kemampuan kerja. Begitu juga dengan pemberian fasilitas dan keselamatan kerja, perusahaan memberikan hak yang sama kepada seluruh pekerja tetapnya. Stereotype dan marginalisasi yang diberikan oleh masyarakat kepada perempuan tidak lagi mempengaruhi perusahaan dalam mengambil kebijakan. Kedua perusahaan tersebut memang belum merepresentasikan kondisi seluruh industri yang ada di Gresik, akan tetapi setidaknya dapat menjadi gambaran mengenai konstruk gender yang sedang berkembang dalam sektor industri Gresik. Diantara aspek yang mendukung kondisi tersebut adalah aspek hukum, yaitu adanya undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 2003 terkait dengan ketenagakerjaan yang merepresentasikan usaha penyetaraan gender. Di samping itu, pemerintah daerah Kabupaten Gresik juga telah menetapkan Peraturan Daerah No. 4 tahun 2012 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah.

Tulisan ini merupakan tulisan Nilna Fadilah, diambil dari Buletin GAPURA, Edisi Desember 2014. Hak cipta tulisan ada pada penulis.


[1] Anonim, “Revolusi Industri” dalam Wikipedia.org diakses pada tanggal 28 Mei 2014 pukul 10:28 WIB.

[2] Harmona Daulay, “Buruh Perempuan di Industri Manufaktur: Suatu Kajian dan Analisis Gender” dalam Reposity.usu. ac.id diakses pada tanggal 28 Mei 2014 pukul 11:16 WIB.

[3] Mansour Fakih, “Posisi Kaum Perempuan dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender” dalam Membincang Feminisme, ed. Tim Risalah Gusti (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. 46.

[4] “Lingkungan Kerja dan Jaminan Sosial” dalam crsemengresik.com diakses pada tanggal 27 Mei 2014 pukul 15:33 WIB.

[5] “Penghargaan atas Hak Perempuan” dalam crsemengresik.com diakses pada tanggal 27 Mei 2014 pukul 15.35 WIB.

[6] “Lingkungan Kerja dan Jaminan Sosial” dalam crsemengresik.com

[7] “Pekerja Anak dan Pekerja Paksa” dalam crsemengresik.com diakses pada tanggal 27 Mei 2014 pukul 15.28 WIB.

[8] Bagus Raditya, Tinjauan Yuridis terhadap Perlindungan Hak Pekerja Perempuan di PT Petrokimia Gresik (Solo: Skripsi Universitas Sebelas Maret, 2013), hlm. 42.

[9] Bagus Raditya, Tinjauan Yuridis…, hlm. 44-45.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here