Jangan Lupa Mendongeng, Opini — Hari ini, 20 Maret diperingati sebagai Hari Dongeng Sedunia. Peringatan ini berawal dari Hari Dongeng Nasional Swedia tahun 1991 yang kemudian tahun 1997 di Perth, Australia, para pendongeng memperingati sebagai International Day of Oral Narrator. Dan selanjutnya beberapa negara mulai ikut merayakan 20 maret sebagai Hari Dongeng Sedunia.

Seiring perkembangan zaman, banyak orang tua yang mengabaikan budaya mendongeng untuk anak. Beberapa pengabaian budaya mendongeng kepada anak diantaranya adalah: Pertama, orang tua lelah bekerja. Kebanyakan orang tua lupa dengan anaknya karena mereka lelah setelah seharian bekerja mencari nafkah. Orang tua beranggapan mendongeng adalah kegiatan yang membuang waktu dan percuma. Padahal untuk bercerita satu dongeng tak butuh waktu berjam-jam, 10 menit cukup. 

Kedua, era digital. Di era digital sekarang ini, segalanya tampak dipermudah dengan adanya teknologi. Dengan alasan perkembangan digital dan tak mau ketinggalan zaman, orang tua lebih suka memanfaatkan teknologi digital untuk menghibur anak. Anak lebih banyak disuguhi tontonan, misalnya video dari youtube, televisi, atau aplikasi dongeng dari playstore. Anak melotot di depan layar sambil mendengarkan cerita. Padahal dongeng yang dikisahkan langsung dari mulut orang tua merupakan suatu sarana edukasi bagi anak.

Ketiga, jika mendongeng tergantikan oleh gadget, maka orang tua lupa dengan arti penting dongeng bagi anak. Mendongeng adalah sebuah kegiatan interaktif dimana orang tua dan anak bisa saling berinteraksi. Tidak akan ada artinya bagi anak jika dilakukan dengan media digital. Mendongeng tidak lagi merupakan suatu bentuk komunikasi satu arah, melainkan hanya satu arah. 

Beberapa artikel dan penelitian mengenai pentingnya orang tua mendongeng bagi anak telah banyak dituliskan, diantaranya: mengembangkan imajinasi, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan melatih daya simak. Bagi penulis, satu hal pentingnya orang tua memberikan dongeng pada anak adalah mewariskan nilai-nilai budi pekerti yang luhur.

Wolfgang Meider, peraih hadiah dongeng Eropa tahun 2012, mengatakan selalu ada nilai seperti harapan dan keadilan dalam mendongeng, yang membuat orang menyukainya. Dongeng menanamkan pentingnya kemanusiaan universal. Meski digambarkan secara simbolis dari tokoh protagonis dan antagonis, dongeng tetap mampu menggambarkan hakikat baik dan jahat dalam sifat manusia. 

Oleh karenanya, mendongeng tak hanya sebatas cerita biasa, mendongeng adalah satu bentuk komunikasi. Seperti halnya komunikasi pada umumnya, terdapat beberapa tata cara agar komunikasi itu bisa tersampaikan secara baik dan tepat sasaran. Salah satu cara agar nilai yang terkandung adalah memilih cerita yang tepat.

Dongeng Anti-Korupsi

Salah satu buku dongeng yang tepat sebagai pembelajaran dan penanaman budi pekerti luhur adalah buku dongeng Anti-Korupsi yang diterbitkan oleh KPK tahun 2007. Buku itu berisi 9 dongeng tentang warga peternakan Pak Tulus dengan nilai yang diangkat berbeda-beda, seperti kejujuran dan keadilan. Tak hanya berisi gambar dan cerita, buku dongeng tersebut dilengkapi juga dengan nilai yang terkandung dalam cerita dongeng. Misalnya dalam cerita Akrobat Wortel diberikan nilai bahwa menjunjung tinggi kejujuran apapun resikonya adalah perbuatan yang mulia. 

Keberadaan buku dongeng Anti-Korupsi dan peringatan hari dongeng sedunia mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, mengingatkan kita bahwa cara terbaik untuk mencegah korupsi adalah dengan menanamkan budi pekerti luhur sejak dini. Kedua, mengingatkan kita bahwa mendongeng adalah sarana komunikasi untuk menanamkan budi pekerti luhur. Yang perlu ditanamkan para orang tua adalah bahwa kegiatan mendongeng kepada anak merupakan kegiatan yang menyenangkan, bukan kegiatan yang melelahkan dan membosankan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here