Ketika Dekonstruksi Melahap Seni – Nampaknya, Derrida adalah seorang pemikir yang terlalu berhati-hati  dalam memandang suatu fenomena, terutama jika itu berkaitan dengan pada struktur, makna, dan hierarki. Bahkan “kebenaran” pun ia curigai. Hal itu terlihat dari hobinya: suka menyingkap hal-hal yang tersembunyi dan selalu curiga. Dekonstruksi buktinya. Lubis (2014: 39) menyebutkan bahwa melalui dekonstruksi itulah, Derrida membongkar berbagai asumsi-asumsi yang tersembunyi dalam setiap struktur, terutama struktur bahasa (linguistik struktural) sebagai embrio kemunculannya.

Dengan dekonstruksi, Derrida mengkritisi pemikiran filsafat sebelumnya, terutama strukturalisme dan hermeneutika. Pada strukturalisme bahasa misalnya, Derrida mengkritik Saussure (Bapak Linguistik Modern) yang menggambarkan penanda dan tinanda ibarat dua sisi koin dengan mengatakan bahwa tidak ada pemisahan yang jelas antara penanda dan tinanda. Karenanya, penanda dan tinanda adalah konsep yang terpisah. Tinanda atau makna tidak begitu saja langsung hadir ketika ada penanda, akan tetapi tinanda atau makna itu selalu mengalami permainan atau selalu melakukan dekonstruksi.

Pada dekonstruksi, hubungan antara penanda dan tinanda tidak lagi bersifat simetris dan stabil berdasarkan konvensi, akan tetapi terbuka bagi permainan bebas tinanda.

Piliang (1998: 266)

Selain pemikiran linguistik struktural, dekonstruksi Derrida juga mengkritisi pemikiran filsafat, agama, sastra, budaya, hukum, bahkan sains (fisika). Singkatnya, Derrida ‘mencurigai’ dan mengkritisi segala bentuk klaim kebenaran, hirarki, struktur dan determinasi. Dari kecurigaan Derrida terhadap ilmu pengetahuan itu, ada benarnya jika dia memimpikan terealisasinya sebuah masyarakat yang terdekonstruksi. Namun bagaimana jika dekonstruksi diterapkan dalam dunia seni?

Segalanya Bisa

Karena dekonstruksi menolak segala otoritas dan klaim seni, maka seni kehilangan identitasnya pula. Pembedaan antara karya seni tingkat tinggi dan dan karya populer lenyap, bahkan sulit membedakan antara seni dan kehidupan sehari-hari.  Fenomena ini sudah banyak terjadi dalam seni. Seni musik misalnya: kehadiran lagu dangdut EDM dengan NDX AKA sebagai artisnya dalam lagu Kimcil Kepolen. Dalam lagu itu berisi lirik, “Jare nek ra ninja ra oleh dicinta, opo koyo ngene susahe wong kere, ameh nyanding tresno kalah karo bondo.” Lirik itu merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan di warung-warung. Tapi ketika dijadikan sebagai sebuah lagu, lirik yang pada dasarnya bahasa sehari-hari dan tidak ada unsur seninya sama sekali itu menjadi suatu karya seni. 

Atau mungkin juga dalam seni lukis. Lukisan-lukisan posmodern cenderung abstrak. Terlihat dari permainan fungsi dan struktur lukisan itu. Ini yang kadang posmodern atau dekonstruksi itu ‘menyenangkan.’ Tidak ada kepastian, aturan dan struktur menjadi seni menjadi benar-benar bebas. Bayangkan saja, kuping bisa ditaruh di hidung, hidung bisa ditaruh di mata, dan mulut di jidat (lihat misalnya lukisan Picasso, Dorra Maere, 1963). Atau mungkin aliran kubisme, di mana mata berbentuk kotak, wajah juga kotak, sementara tubuh bisa berbentuk spiral.

Bagi pengikut Derrida, atau kaum postmodern, dalam seni segalanya menjadi mungkin dan mempunyai kemampuan membentuk makna. Kubisme atau dangdut EDM bisa berpotensi menjadi karya seni yang luar biasa atau seni tingkat tinggi. Seni dalam pandangan dekonstruksi selalu bersifat konfrontatif dan kontroversial. Di samping itu juga bersifat menentang batas-batas seni pada umumnya. Di sinilah, kaum posmodern menemukan kesadaran diri dari gaya seni itu sendiri. Kesadaran gaya dalam seni posmodern seringkali mencampuradukkan, tambal-menambal, antara gaya dan media artistik, seni populer, terjangkau dan berbeda-beda. Bahkan jika kita melihat kubisme, ada kesan bahwa seni posmodern sengaja meminjam secara paksa sekaligus mengkritik seni modern pada masa lalu.

Segalanya Relatif

Pemikiran strukturalis dan modern memang terkesan kaku dan ketat. Ia mendiskreditkan pretensi model-model pemikiran dan seni pada validitas absolut. Melihat hal tersebut, Derrida merasa jemu. Ia kemudian melakukan berbagai upaya secara sadar untuk bisa melepaskan diri dari sistem berpikir yang demikian. Dengan demikian, dekonstruksi Derrida tidak hanya menolak kepercayaan modernisme dalam kemajuan, namun juga menyangkal kebenaran realitas objektif dari pemikiran modernisme. Piliang (1998: 230) menyebutkan bahwa teori dan estetika seni  posmodern mengandaikan bahwa semua pengetahuan, semua persepsi dan setiap lingkup kesadaran dan eksistensi manusia tunduk pada hukum relativitas.

Ketundukan pada hukum relativitas tersebut pada akhirnya menimbulkan pluralitas. Adanya pluralitas tersebut menunjukkan bahwa seni posmodern merupakan seni yang bercirikan keberagaman. Penghargaan pada keberagaman itu menjadikan seni posmodern merupakan seni yang menghargai karya dan penuh toleransi karena mempunyai ciri khas yang unik. Namun, pluralitas dalam seni ternyata juga menyimpan dua permasalahan utama: pertama, adanya klaim masing-masing aliran atau gaya seni bahwa seni merekalah yang terbaik. Klaim tersebut berpotensi menciptakan persaingan. Dan kedua, pada akhirnya, kepentingan ideologis dan kapitalisme hadir. Di titik ini, akan ada dominasi aliran seni tertentu.

Fenomena ini juga bisa kita lihat dari seni musik, seperti pada NDX AKA yang kemudian memunculkan stigma masyarakat bahwa “Tidak EDM, tidak dangdut. Tidak dangdut tidak laku.” Atau mungkin dalam seni lukis:

“Realis itu kuno dan tidak menjual.”

Jadi, dalam seni posmodern yang bersifat dekonstruktif dan menganggap segalanya adalah relatif, ternyata mempunyai potensi untuk kembali pada siklus hirarki. Sehingga tampak bahwa dekonstruksi tak lain semata-mata hanyalah suatu sistem baru untuk menciptakan hirarki baru.

Segalanya Eksperimen

Dengan sifatnya yang ‘segalanya bisa’ dan ‘segalanya relatif’, dekonstruksi dan seni posmodern menciptakan banyak sekali jenis atau gaya-gaya baru dalam seni. Dalam seni sastra misalnya, novel Dee Lestari berjudul KPBJ menciptakan gaya science-fiction di mana di dalam novel tersebut terdapat catatan kaki yang seperti dalam teks sains akademik (bahkan ada catatan kaki yang berbentuk diagram!), atau puisi Sutardji, Winka-Sihka, yang bermain-main dalam tatanan morfologi bahasa Indonesia (lihat Rampan, 2000), atau mungkin yang ramai diperdebatkan di tahun 2000-an, yakni puisi esai, di mana puisi ‘wajib’ panjang, ‘wajib’ bercatatan kaki, dan ‘wajib’ berceritakan fakta sejarah.

Bisa dikatakan bahwa gaya-gaya seni posmodern semakin hari semakin berkembang seturut dengan berkembangnya kreatifitas dan tingginya imajinasi masyarakat. Meskipun trend atau gaya-gaya seni tersebut berlangsung hanya dalam kurun waktu tertentu, kemudian hilang atau lenyap. 

Sehingga terdapat kesan bahwa seni posmodern selalu bersifat eksperimental. Kesan ini memang merupakan kesan bagian penting dari seni posmodern karena banyak juga dari kaum posmodern yang beranggapan bahwa karya-karya mereka tak lain hanyalah fragmen-fragmen atau serial (Sunarto, 2018).

Derrida sendiri sepertinya ingin mengatakan bahwa tidak ada karya yang benar-benar selesai dan tidak ada karya yang benar-benar dimulai.

Karena jika ada permulaan atau akhir, berarti ia tidak mempunyai jejak, sementara bagi Derrida, jejak mempunyai penting dalam mendekonstruksi realitas dan kebenaran. 

Mimpi Derrida Dalam Seni

Seturut dengan penjelasan di atas, jika mimpi Derrida mengenai terealisasinya dunia yang terdekonstruksi terjadi pada dunia seni, maka seni atau dunia seni itu sendiri akan kehilangan dirinya sendiri. Seni bukan lagi seni. Hal ini karena pertama-tama, dekonstruksi mengandaikan segalanya bisa. Hal ini akan membuat seni kehilangan medan dan batas-batasnya. Di samping batas-batas itu rusak, dekonstruksi juga menjadikan seni menjadi sesuatu yang relatif. Dengan demikian, bisa dikatakan panggung dalam seni pertunjukkan bukan lagi panggung pertunjukkan, bisa jadi panggung itu hanya metafora belaka. Penulis pun juga bukan penulis, melainkan teks metafora belaka.

Hingga pada akhirnya, seni bukanlah suatu karya melainkan suatu eksperimen.  Ketika seni menjadi suatu eksperimen, seni akan berkembang dan kaya akan inovasi. Proses dalam seni akan mendapatkan tempat yang istimewa dibanding hasil karya seni itu sendiri. Akan tetapi, inovasi dan perkembangan itu juga mempunyai potensi untuk menciptakan kembali dominasi terhadap struktur dan tatanan seni. Karena itu, mimpi Derrida akan terciptanya dunia yang terdekonstruktif dalam seni tak lain hanyalah mimpi.

Referensi dan Bahan Bacaan:

Eco, Umberto. 2008. The Name of The Rose. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Dee, Lestari. 2001. Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Bandung: Truedee Books.

Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Posmodernisme: Teori dan Metode. Jakarta: Jalasutra.

Piliang Amir, Yasraf. 1998. Sebuah Dunia yang Dilipat, Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Modernisme. Bandung: Penerbit Mizan

Piliang Amir, Yasraf. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Rampan, K.L. (2000). Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Zamzam Noor, Acep. 2005. Puisi Esai, Kemungkinan Baru Puisi Indonesia. Jakarta: Yayasan Ananda. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here