Manusia Pencabut Nyawa, Cerpen — Seluruh perhatian dalam rumahku kini tertuju pada ayahku. Ia sedang terbaring lemas di atas kasur kecil. Wajahnya berubah menjadi kalut dan tegang, tak seperti pagi tadi: segar tenang. Kadang ia berteriak, menahan sakit atau marah. Puluhan orang mengerumuninya. Beberapa orang kukenal: keluargaku sendiri, tetanggaku, dan kerabat ayahku. Aku masih kecil, meski aku anaknya, dalam desakan itu aku tak dapat tempat. Ku pendam keinginan untuk mendekati ayahku.

“Arkh”  ayahku berteriak untuk yang kesekian kalinya. Sura itu membuat keinginanku untuk mendekati ayahku semakin besar. Sepintas terlihat dari celah-celah orang-orang yang berkerumun, kulihat ibuku, kedua kakakku dan satu dari adikku telah berhasil menyentuh kulit ayahku. Aku merasa cemburu. Tapi aku sadar diri, aku tak diharapkan ayahku. Aku memilih untuk tidur di kamar belakang.

 “Yan, ibumu memanggilmu.” ucap pamanku dengan menjulurkan tangannya. Aku menurut saja. 

Pamanku menuntunku melewati kerumunan orang-orang. Ibuku memandangku dengan mata sayu, sambil berucap, “Nak, kamu duduk situ, dekat kaki ayahmu. Sambil pegang telapak kaki ayah.” Aku menurut, meski dalam hati bertanya-tanya ada apa. Kupegang telapak kaki ayahku. Terasa sangat dingin. Seperti daging yang berhari-hari di dalam kulkas.

Saat aku memegang telapak kaki ayahku, orang-orang sudah tak lagi membaca Quran. Terdengar sunyi. Ayahku sudah tak berteriak lagi, tertidur sambil mendengkur. Satu persatu, orang-orang mulai pergi meninggalkan ayahku yang sedang tidur. Hanya aku, kedua kakakku, pamanku, dan ibuku yang masih setia menemani. Suasana semakin tenang, tak ada lagi suara orang membaca Al-Quran, tak ada lagi jeritan dari ayahku, tak ada lagi orang berbincang-bincang, dan tak ada lagi orang menangis. Berbeda dengan suasana 1 jam yang lalu.

Ketika kulihat muka ayahku, ingatanku akan 3 hari yang lalu. Ketika ayahku masih dirawat di rumah sakit. Ayahku berucap padaku, “Takutlah kau pada Tuhan, nak.” Entah kenapa ucapan ayahku saat itu kini terngiang-ngiang jelas di pikiranku. Seakan ayahku sekarang berbicara langsung padaku. Tapi ayahku sekarang tidur. Entahlah. 

Sudah 20 menit aku duduk dengan memegang telapak kaki ayahku. Aku melihat kedua kakakku sepertinya sedang tertidur. Kakakku yang pertama duduk menundukkan kepalanya sambil memegangi tangan kanan ayahku dan kakak keduaku yang juga duduk menundukkan kepalanya sambil memegang tangan kiri ayahku. Terkecuali ibuku yang masih senantiasa mengelus-elus kening ayahku dengan mata berair. 

Semakin dingin. Sangat dingin. Lebih dingin dari yang tadi. Aku merasa heran dengan peristiwa ini. Aku menatap ibuku dan berucap,

“Bu, sudah terasa sangat dingin. Dingin sekali.”

Mendengar ucapanku tadi, ibuku gusar. Ia tempelkan telinganya di atas dada ayahku, lalu menempelkan telinganya di dekat hidung dan mulut. Kedua kakakku bersamaan terbangun.

Ibu tampak panik, matanya memerah. Lalu ia berdiri dan berlari keluar. Disusul kakak keduaku beranjak dan berlari keluar ruang tengah. Aku sempat melihat kakak keduaku meneteskan air mata.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un,” ucap pamanku memecah keheningan.

Teriakan-teriakan dan tangisan-tangisan menggema seketika dalam rumahku. Sangat membuatku merasa takut. jeritan histeris ibuku terdengar sedang ayahku kulihat masih tenang-tenang saja. Pamanku mendekatiku. Dengan mata berair  ia memegang tanganku yang masih terasa dingin bekas telapak kaki ayahku. Kemudian pamanku berucap, “Yan, ayo ikut paman jalan-jalan!” Ucapnya sembari tersenyum.

Pamanku berhenti di bawah pohon jambu. Kemudian pamanku menurunkanku dengan perlahan. Seraya berucap, “Huuuhhh.. anak kecil kok berat sekali.”

Aku tertawa, memandang tubuhku yang kecil dan gendut. Aku membalas, “Yang penting sehat paman. Hahahaha..” pamanku kemudian duduk disamping dan memelukku.

“Yan, besok Rabu kamu ikut paman ke Madura ya?” tanya pamanku sembari tersenyum.

“Hore. Aku kangen kakek. Sama Lody juga. Pengen naik perahu lagi aku paman.” Aku sangat gembira. Paman akan mengajakku ke Madura.

“Iya Yan. Besok paman ajak kamu naik perahu, sama Lody. Kakek kamu juga pasti kangen kamu. nanti kamu minta dibuatin kakek rujak mangga ya?”

“Iya paman. Harus yang pedas.” Kataku sangat bersemangat membayangkan hari esok cepat terjadi.

Pamanku memelukku dengan eratnya. Semilir angin yang ditiupkan pohon tempatku bersandar semakin sejuk. Menimbulkan rasa kantuk padaku. Tarian rumput-rumput ilalang di sekitarku terasa mengajakku untuk ikut menari. Tapi pelukan dari pamanku menghalangiku. Terasa sangat erat dan hangat. Matanya terpejam saat ku tatap. Suara burung-burung kecil berlomba menyanyi. Mendengdangkan lagu tidur yang merdu. Kupejamkan mataku, menikmati lantunan detik musik burung kecil dan merasakan detak tarian angin.

***

“Oper Jib, oper bolanya ke aku. Cepat.” Bola datang padaku dan aku menendang bola itu ke gawang dengan sekuat tenagaku.

Sayang sekali, bola itu tak menyentuh jaring sama sekali. Melebar jauh di atas gawang.

“Ambil bolanya, Yan!” Mujib menyuruhku untuk mengambil bolanya.

“Iya Yan, cepet ambil bolanya.” Teman-temanku ikut menyuruhku untuk mengambil bola. Sebagai rasa tanggung jawab karena menendang bola dengan keras tapi tidak menghasilkan gol. Aku menuruti mereka. Aku berlari meninggalkan lapangan yang sebetulnya adalah halaman sekolah tempat ayahku menjadi Kepala Sekolah.

Saat mengambil bola, aku melihat ada 5 orang yang terlihat sedang berdiri menjaga pintu ruang kerja ayahku. Aku sering diajak ayahku masuk kedalam ruangan itu. Tapi lima orang itu sangat terlihat aneh. Mereka berlima sangat besar, berpakaian hitam, dengan penutup kepala yang juga serba hitam. Dan yang paling membuatku terkejut adalah ketika melihat tangan mereka. Ternyata mereka memegang api. Api merah dan sedikit kebiru-biruan.

Entah kenapa aku jadi merasa takut. Badanku terasa panas dan ngeri. Aku memilih untuk pergi dari tempatku melihat mereka. Aku mencari bola tadi, tapi masih dengan perasaan takut dan kalut. Mataku mencari-cari dimana bola yang tadi ku tendang. Kutemukan, bola itu berada di belakang ruangan depan kantin. Aku berlari untuk mengambilnya.

“Arrkkkh.” tiba-tiba aku mendengar suara jeritan itu. Aku mengenal teriakan itu. Sangat kukenal. Aku telah mendapatkan bolanya.

“Arrkkhhh.” jeritan ini terasa semakin dekat denganku. Aku menoleh-noleh mencari dari mana suara ini berasal. Hawa badanku terasa sangat panas. Dan ketika aku melihat kaca hitam ruangan depan kantin, aku melihat seperti terjadi kebakaran. Aku menjadi penasaran dan aku mendekati kaca hitam itu untuk melihat apa yang terjadi di dalam.

“Akkhh.!!” mataku seakan ingin copot. Jantungku tersayat, berhenti berdetak. Tak bernafas dan anggota tubuhku tak mampu bergerak. Teriakan itu adalah teriakan ayahku. Ayahku yang di bakar oleh puluhan orang yang sama seperti yang kulihat di depan ruangan ayahku. Aku baru sadar, ternyata ruangan yang sedang kulihat kini adalah ruang kepala sekolah. Ruangan ayahku.

Aku takut. Aku menangis. Hatiku sangat ingin menolong ayahku. Tapi aku tak berani. Dan ketika salah satu dari orang berjubah hitam melihatku. Aku terkaget, matanya merah. matanya dari api. Tak seperti mata manusia. Dia mengejarku aku mencoba lari. Tapi dia sangat cepat, atau aku yang sangat lambat berlari. Aku meminta tolong, meminta ampun. Aku kini menangis. Aku mencoba meminta belas kasihnya untuk dibiarkan pergi, tapi ketika mata kami berpandangan, dia tak menghiraukan air mataku. Aku berteriak, “Ayaahhh…” Dia membakarku.

***

“Yan. Bangun, Ayo kita berangkat ke Madura.” Suara itu terdengar jelas di telingaku. Pijatan tangannya di kakiku sangat terasa bagiku. Aku membuka mataku dan tubuh pamanku terlihat jelas. Aku melihat ia tersenyum padaku. Ia membangkitkanku lalu menggendongku keluar dari kamar belakang, menuju mobil-mobil yang sedang berada di depan rumah. Dimasukkannya aku ke dalam salah satu mobil yang berderet di depan rumah. Kemudian ia masuk di mobil yang sama denganku.

“Jar, jadi bagaimana dengan pembalasan dendam Munif?” Paman Isa yang berada di kursi depan berbicara pada paman Anjar, paman yang tadi menggendong masuk kedalam mobil.

Paman Anjar hanya diam saja. Munif adalah nama ayahku. Apa yang terjadi dengan ayahku? dendam dengan siapa? Hatiku bertanya-tanya tapi tak tahu jawabnya.

“Aku sakit hati Jar, jika kau sepakat untuk balas dendam, aku akan langsung dengan mudah membunuh mereka semua. Kita orang Madura Jar, dia juga saudaramu, saudaraku. Kamu tau bagaimana saudaramu yang sangat berjasa membantu dan menjaga kesejahteraan keluarga kamu, mati di bunuh secara gaib oleh mereka yang rakus akan jabatan dan uang.” Ujar Paman Isa.

“Mati.. Dibunuh..” dalam hati aku semakin penasaran bertanya-tanya. “Paman, apa benar ayah sudah mati? Dimana ayah sekarang?” aku beranikan untuk bertanya pada mereka. Ingatanku teringat pada mimpiku tadi ketika melihat ayahku dibunuh oleh sekumpulan orang berjubah hitam dan memegang api.

“Iya Yan, ayahmu sudah meninggal. Ketika tadi siang paman menggendongmu ke pekarangan rumah. kamu jangan sedih ya Yan, yang sabar.”

Aku terdiam. Tak percaya. Aku mencoba mengingat peristiwa tadi siang. Ketika kaki ayahku menjadi daging dingin yang baru keluar dari kulkas. Dalam pikiranku juga masih teringat jelas dengan mimpiku tadi.

Aku mengalihkan pandanganku pada bulan dan bintang yang terlihat dari balik kaca hitam mobil. Bulan terlihat seperti sedang tersenyum padaku. Bintang-bintang pun jua. Ratusan bintang tersenyum menyapaku.

“Jar, Aku akan membalas kematian saudaraku.” Ucap Paman Isa memecah lamunanku berkasih dengan bulan dan bintang.

“Jangan, Sa! Tak ada gunanya, meskipun mereka mati, Munif tak akan kembali hidup. Hanya akan menimbulkan masalah yang akan semakin rumit. Sudah, itu sudah takdir Allah.” Nada suara Paman Anjar menaik.

“Ya, aku tau itu. Meski balas dendamku terbalas, Munif tak akan hidup kembali. Aku tau itu. Tapi mereka yang membuat masalah dengan kita, dengan keluarga kita. Darah harus dibalas dengan darah. Kematian harus dibalas dengan kematian. Ingat itu!”

“Apa kamu punya bukti nyata kalau Munif memang meninggal karena dibunuh?”

Aku teringat mimpiku. Dan aku yakin kalau Ayahku telah dibunuh. Tapi aku tak berani menceritakan mimpiku.

“Memang tak ada bukti nyata. Tapi kejanggalan-kejanggalan saat Munif dirawat di rumah sakit dan jeritannya sewaktu nazak cukup membuktikan kalau Munif mati dibunuh dengan santet”

“Hush. Jaga mulutmu Sa! ada Yayan disini.” Nada kemarahan paman Anjar sangat mengagetkanku. Tapi aku lebih kaget dengan perkataan Paman Isa. “Munif mati dibunuh dengan santet”. Tapi aku beraksi bersikap cuek, meski dalam hati ingin sekali aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga sangat ingin menceritakan tentang mimpiku.

“Begini saja, jika memang Pak Isa yakin bahwa almarhum Munif meninggal karena dibunuh dengan halus, besok ketika jenazah almarhum Munif dimakamkan di liang lahat sampeyan letakkan sebilah pisau disamping jenazah Munif. Dalam satu minggu, jika Munif memang benar dibunuh dengan cara disantet, maka penyantetnya akan ikut mati juga. Dulu saudaraku juga mati dengan aneh. Kemudian aku melaksanakan wasiat dari kiai di desaku untuk melakukan itu. Dan terbukti, yang membunuh saudaraku itu mati terbunuh dengan penuh goresan pisau.” Sopir mobil berkata dengan tenang dan penuh keyakinan. Aku tak tau siapa sopir itu.

“Ya, dengan begitu akan terbukti. Aku besok yang akan menaruh pisau itu di samping jenazah Munif di liang lahat.” Kata Paman Isa dengan semangat.

Aku mulai mengantuk lagi. angin malam masuk ke dalam mobil melalui celah-celah kaca mobil. Aku sungguh lelah. Suasana didalam mobil mulai membuatku jenuh. Aku ingin tidur. Aku rebahkan tubuhku disamping Paman Anjar.

“Yang berhak mengambil nyawa manusia hanyalah Tuhan. Kita harus mempercayainya. Jika kita memang benar Islam. Kematian adalah takdir tuhan yang tak bisa dirubah. Begitu juga dengan jodoh dan rizki. Iblis, setan, atau makhluk halus lain tak bisa mengambil nyawa orang lain. Apalagi manusia.” Kata Paman Anjar sambil membetulkan posisi tidurku. Kini pahanya kujadikan bantal tidurku. Dan Paman Anjar mengelus-elus rambutku dan keningku.

Aku tak perduli lagi, aku merasa sangat mengantuk, lelah, dan tak bergairah lagi untuk mengikuti percakapan mereka. Yang ku rasakan sekarang hanyalah rasa rindu pada ayahku.

***

Pagi ini aku harus berangkat pagi-pagi ke sekolah. Upacara hari Senin akan dimulai sebentar lagi. Aku berpamitan pada ibuku. Di jalanan aku melihat puluhan bendera putih di depan rumah-rumah tetanggaku. Aku heran, kenapa ada banyak sekali yang mati hari ini? aku tak perduli. Aku terus berjalan.

“Yan, tunggu aku.” aku menoleh ke asal suara, ternyata suara itu berasal dari Mujib.

“Iya. Cepet!” Mujib masih memakai sepatu. Aku menunggu di depan rumahnya. aku melihat ke seberang jalan raya. SMK Nusantara.

Aku terkejut. Ayahku. ya. Ayahku, jangan-jangan Paman Isa melakukan cara yang disarankan oleh sopir mobil kemarin. Dan benar, ayahku mati terbunuh manusia. Dan bendera-bendera putih tadi mereka. Tapi…

“Woi.. melamun aja kamu. Sudahlah Yan, Ayah kamu sudah dipanggil oleh Allah. Ayo berangkat sekolah. Upacara dimulai sebentar lagi.” Mujib mengagetkanku. Kita pun berangkat sekolah.

***

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan“. (Al-Munafiqun: 11)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here