Sekilas Tentang KH. Hasyim Asy’ari, Sosok – KH Hasyim Asy’ari lahir dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah pada 14 Februari 1871 M (24 Zulkaidah 1287 Hijriah) di desa Gedang, sekitar 2 km di sebelah utara kota Jombang, Jawa Timur.

Beliau berdarah bangsawan dan ahlul bait Nabi Muhammad SAW. Darah bangsawannya bisa ditelusuri lewat jalur silsilah ibundanya yang akan sampai pada Rabu Brawijaya VI (Lembupeteng). Sedangkan sebagai ahlul bait bisa ditelusuri dari dari nasabah ayahnya yang akan bersambung pada keluarga Syaiban Al-Munhandarain, salah satu penyebar Islam di Asia Utara, hingga seterusnya kepada Sayidina Ali, suami Fatimah binti Rasulullah SAW.

Masa Kecil KH. Hasyim Asy’ari

Kiai Hasyim Asy’ari masyhur dikenal sebagai anak yang cerdas sejak kecil. Di usia 12 tahun, ia sudah ikut membantu ayahnya mengajar para santrinya di pondok Gedang. Namun, kemauanya yang begitu keras untuk mendalami ilmu agama, ia memilih untuk menjadi musafir pencari ilmu.

Dalam catatan Chairul Anam (AULA, 1984), KH Hasyim Asy’ari menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk mondok di berbagai tempat. Setidaknya ada 5 pondok yang pernah menjadi tempatnya meneguk samudera keilmuan, yaitu: pondok Wonokoyo, pondok Probolinggo, pondok Pelagitan, pondok Trenggilis, lalu ke Madura dan lain sebagainya hingga akhirnya ke pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo selama empat tahun.

Menikah dengan Khadijah

Pada tahun 1892, sewaktu berumur 21 tahun, Kiai Hasyim Asy’ari menikah dengan seorang gadis bernama Khadijah, putri Kiai Ya’kub, yang tak lain adalah pengasuh Pondok Siwalan yang menjadi tempat Kiai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu.

Selang beberapa bulan dari pernikahanya, kedua mempelai baru ini pergi menunaikan ibadah Haji. Dan tidak hanya untuk niat berhaji, kedua mempelai juga mempunyai niat untuk bermukim di Makkah dan mencari ilmu di sana.

Namun, belum sampai tujuh bulan di Makkah, musibah datang beruntun: Nyai Khadijah meninggal saat melahirkan. Abdullah, nama si orok itu kemudian menyusul ibunya setelah 40 hari di pangkuan Kiai Hasyim. Kiai Ya’kub segera menyusul dan meminta agar Kiai Hasyim kembali saja ke Pulau Jawa. Kiai Hasyim Asy’ari menuruti saran dari mertuanya. Ia kemudian kembali ke Jombang.

Kembali ke Tanah Suci

Dan masyhur, Kiai Hasyim adalah sosok yang haus akan ilmu. Tidak begitu lama tinggal di Jombang, Kiai Hasyim memutuskan kembali ke tanah suci dan bermukim di sana hingga tujuh tahun untuk menimba ilmu.

Dalam rentang waktu itu Beliau telah berhasil mempelajari berbagai ilmu agama, hingga mendapat ijazah sebagai Isnad Bukhori dari seorang gurunya yang paling dikagumi, Syeikh Mahfudz.

Sekitar 1898, ketika Kiai Hasyim hendak kembali pulang ke Jombang, pada suatu hari di bulan Ramadan, beliau sempat mengadakan pertemuan dengan 9 orang kawannya dari Birma, Turkistan, Malaysia, Afrika dan Arab. Mereka membicarakan situasi penindasan kolonial Belanda yang semakin pedih dirasakan oleh orang orang Timur, khususnya sesama saudara muslim.

Pertemuan akhir itu kemudian ditutup dengan kata sepakat: mengadakan sumpah bersama dihadapan Multazam — Kabah. Isi sumpah:

Mereka berjanji sesampai di tanah air akan berjihad di jalan Allah demi terwujudnya masyarakat Islam dan kemerdekaan yang hakiki. Janji dan sumpah itu pun segera ditempati begitu beliau sampai di kampung halaman.

Chairul Anam, AULA 1984.

KH Hasyim Asy’ari Kembali ke Ibu Pertiwi

Pada tahun 1899, sekembalinya Kiai Hasyim Asy’ari di tanah ibu pertiwi, beliau mendirikan “tratak” di Tebuireng. Bangunan setengah jadi itu disekat menjadi dua petak, satu petak berfungsi sebagai tempat tinggal dan satunya lagi sebagai tempat sembahyang berjamaah.

Namun Tebuireng ketika itu dilukiskan sebagai daerah rawan, cukup menghambat niat mulia kiayi Hasyim. Penjahat-penjahat kakap seringkali mencobanya hingga akhirnya Kiai Hasyim minta bantuan 5 kiai dari Cirebon. Lima kiai — sahabat karib Kiai Hasyim — yang dikenal jago silat itu diminta melatih beberapa orang pengikutnya dan juga dirinya.

Ternyata ilmu silat tak ada yang bisa mengungguli. Penjahat-penjahat di Jombang kelabakan dan akhirnya bertekuk lutut. Bahkan kemudian mereka menyerbu pondok minta diajar ilmu silat dan ilmu agama, hingga nama Tebuireng menjadi masyhur.

Tapi bukan rintangan telah musnah. Kali ini bukan lagi penjahat yang menghambat, melainkan pembesar-pembesar Belanda. Belanda menaruh curiga terhadap aktivitas keagamaan yang dilakukan Kiai Hasyim.

Dan lebih bengong lagi ketika ternyata seorang muhandis, insinyur, arsitek Karl Von Smith yang dikirim Belanda untuk memimpin pembangunan beberapa proyek di Indonesia, terpikat Kiai Hasyim hingga masuk Islam. Sehingga warna aslinya terlihat jelas: ingin menghentikan kegiatan KH Hasyim Asy’ari.

Cara untuk mencapai naluri jahatnya mulai dicari. Tuduhan macam-macam mulai diarahkan. Namun yang paling sering dituduhkan adalah melakukan pembunuhan. Setiap terjadi pembunuhan di kawasan Jombang, mestilah Santri tebu Ireng yang menjadi sasaran. Ternyata setiap dituduhkan justru Belanda kebingungan mencari pembuktian. Akhirnya jalan pintas harus segera ditempuh.

Pada tahun 1914an, Pondok Tebuireng diserang serdadu Belanda hancur berantakan. Sejumlah kitab ludes dan tembok tembok dirobohkan. Tapi tidak dijelaskan berapa banyak jatuh korban. Hanya kemudian oleh pembesar Belanda di Jombang diberitakan bahwa Tebuireng sarang pemberontak dan ekstrimis muslim.

Kiayi Hasyim segera mengumpulkan para Santri dan berkata: Kejadian ini justru membuat kita semakin semangat berjuang. Beliau kemudian mengutus santri-santrinya memberitakan kejadian musibah itu keseluruh pesantren di Jawa dan juga Madura, hingga kemudian sumbangan mengalir dan tidak sampai delapan bulan Pondok Tebuireng sudah kembali sempurna.

Santri yang datang kemudian bertambah banyak. Tidak terbatas hanya dari kawasan Jawa timur saja, tetapi justru hampir seluruh Indonesia. Nama Tebuireng semakin masyur dan bahkan kemudian menjadi kiblatnya pesantren Jawa dan Madura.

KH Hasyim Asy’ari Mendirikan Nahdlatul Ulama

Akhir abad 19 dan awal abad 20, pengaruh Pembaharuan ajaran Islam Timur Tengah mendobrak Indonesia. Pertentangan khilafiyah mulai berkecamuk antara kelompok yang menamakan diri modernis dengan barisan ulama memegang salah satu dari empat mazhab.

Karena pertentangan semakin meruncing, dan tentu saja Kiai Hasyim faham betul siapa itu Rasyid Ridha atau Muhammad Abduh. Sebab beliau ketika lama di Mekah pengaruh Sabtu masuk dan telah disaring lewat filter para guru besarnya. Karena itu, kiayi Hasyim memberikan izin kepada santrinya, Kiai Haji Abdul Wahab, untuk membentuk jamiyah ulama yang kini dikenal dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Belum sampai menginjak usia 15 tahun, NU tersebar di seluruh Indonesia. Tentu saja semua itu berkat perjalanan panjang Kiai Hasyim semasa membangun Tebuireng. Hingga ketika beliau memegang pimpinan tertinggi NU, segera para ulama di berbagai daerah menyatakan dukungannya sebagai tanda bukti perkhidmatan santri terhadap Sang Guru.

Perjuangan Melawan Penjajah

Kebesaran NU pun semakin membuat Belanda jengkel. Tipudaya mulai dilancarkan kembali. Pada 1937 seorang pembesar Belanda urusan pemerintahan Hindia Belanda datang kepadanya, bermaksud memberikan tanda penghargaan berupa bintang yang dibuat dari emas dan perak. Pemberian itupun ditolaknya dengan halus.

Setelah besar Belanda pulang, Kiai Hasyim segera mengumpulkan para santrinya dan bercerita tentang keadaan nabi Muhammad ketika hendak diberi hadiah kedudukan wanita dan harta oleh pemerintah Jahiliah. Tapi nabi menolak. Bahkan andai saja mereka berkuasa memindahkan matahari dan bulan di tangannya, nabi tetap akan menolak dan memilih gugur membela Islam. “Maka kamu sekalian anakku,” demikian Kiai Hasyim kepada para santrinya, “hendaknya sedapat mungkin mencontoh nabi”.

Pada menjelang kemerdekaan, Kiai Hasyim seringkali didatangi Bung Tomo, tokoh heroik 10 November 1945 di Surabaya, dan juga Panglima Besar Jendral Sudirman. Kedua tokoh pejuang ini selalu meminta petunjuk-petunjuk beliau tentang cara menghadapi Belanda dan segera bisa mengusirnya. Semangat kepahlawanan kiayi Hasyim tiada bisa diukur dengan harta.

Hingga pada saat NICA kembali ingin berkuasa, pada dua 2 Oktober 1945 dia Hasyim mengumumkan Fisabilillah atau perang Suci melawan NICA. Fatwa kiayi Hasyim Berkemah di persada Indonesia. Seluruh pesantren bangkit dengan bambu runcing mengusir penjajah.

Perlawanan kepada Jepang

Sebelum itu, pada 1942, Jepang datang dengan membawa Saikere, budaya penyembahan membungkuk 90 persen kepada Tenno Heika, Raja Jepang. Tiap pagi sekitar 07.00 seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali harus menjalankan Saikere. Pesantren ribut dan tentunya Kiai Hasyim mengharamkannya.

Tapi kemudian KH Hasyim Asy’ari ditangkap Jepang dan dipenjarakan dan Jombang, kemudian ke Mojokerto dan akhirnya ditawan bersama serdadu sekutu di Bubutan. Selama empat bulan Kiai Hasyim ditawan disiksa habis-habisan hingga jari jemari di kedua tangannya tak lagi bisa digerakkan, cacat.

Tapi karena kemudian pemberontakan Santri dan kiayi justru timbul di mana-mana, KH Hasyim Asy’ari kemudian dikeluarkan. Ternyata Jepang merasa keliru menangkap Kiai Hasyim. Sebab Sambu Beppang (Gestapu Jepang) telah mengadakan penelitian tentang jumlah kiai di Jawa dan Madura.

Pada tahun 1942 jumlah tersebut mencapai 20.000 kiai dan seluruhnya hasil didikan Tebuireng, made in Tebuireng, fabrikat Tebuireng. Karena itulah barangkali Jepang segera membebaskan Kiai Hasyim. Mereka takut akan terjadi perlawanan serdadu kiai yang jumlahnya bagai burung ababil itu.

Selain pimpinan tertinggi NU, Kiai Hasyim juga pernah memimpin Masyumi. Bahkan juga diangkat oleh Jepang untuk menjadi kepala Shumubu – kepala kantor urusan Agama untuk Jawa-Madura.

Tentunya tidak mungkin bisa mengenang jasa Kiai Haji Hasyim Asy’ari hanya melalui tulisan beberapa lembar begini. Karena itu, perlu kita belajar banyak lagi dari riwayat beliau, ilmu beliau, ketekunan dan ketabahan beliau, dedikasi, pengabdian dan semangat kepahlawanan beliau.

Hingga menjelang wafat, beliau masih sempat menemui dua orang tamu utusan Bung Tomo dan jendral Sudirman untuk melaporkan perkembangan agresi pertama tentara Belanda yang dipimpin oleh General SH. Spoor telah memasuki Singosari.

Begitu mendengar berita buruk itu yang Hasyim langsung masuk ke rumah dan tak sadarkan diri hanya berseru tak henti-hentinya: “Masya Allah, Masya Allah, Masya Allah…” dan malam itu juga (ketika itu tanggal 7 Ramadan 1366 H atau 25 Juli 1947 M) sekitar pukul 03.45 beliau pulang ke rahmatullah dengan tenang. Beliau meninggalkan semua yang kita warisi sekarang ini.

Sumber

Tulisan ini disarikan dari beberapa tulisan: 1) Chairul Anam, Di Bawah Tarbiyah Chadratusysyeikh, dalam AULA 1984. 2) Ishomuddin Hadziq, KH. Hasyim Asy’ari: Figur Ulama dan Pejuang Sejati, 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here