Mengingat Seymour Chatman dalam Cerita, Sosok — Sebuah cerita (prose) akan menjadi baik dan bernilai estetik tinggi apabila didukung oleh unsur-unsur pembentuk (unsur intrinsik) yang baik dan disusun secara baik dan padu. Ada keterkaitan antarunsur pembentuknya menjadi satu kesatuan yang padu. Unsur-unsur tersebut adalah tema, fakta, dan sarana cerita.

Pada fakta sastra termasuk di antaranya plot, penokohan, dan latar. Satu pandangan menarik mengenai unsur-unsur dalam karya sastra adalah pandangan dari Seymour Chatman (1928-1956) dalam bukunya Story and Discourse. Dalam bukunya, Chatman menjelaskan secara panjang lebar mengenai dua arus pokok muatan dalam teori narasi: story dan discourse.

Klasifikasi ini penting sebagai bagian dari proses pembacaan struktur teks secara holistik mengingat tidak hanya perihal konten (story) yang menjadi fokus namun juga bagaimana konten itu dikomunikasikan (discourse) lewat pilihan kata dalam bahasa yang menjadi jembatan utama penceritaan. Story merupakan isi atau rantai dari peristiwa-peristiwa (tindakan dan kejadian) dan eksisten-eksisten (karakter dan latar). Sementara discourse merupakan ekspresi dari cerita atau susunan peristiwa dalam suatu cerita.

Seymour Chatman dalam bukunya mengawali pembahasan mengenai teori struktur naratif dengan dalil-dalil ketidaksepakatannya terhadap kerja tokoh-tokoh yang lebih dahulu memperbincangkan teori struktur naratif. Chatman (p.15), misalnya, mengkritik pemikiran Vladimir Propp yang dianggap terlalu sederhana mengurai struktur naratif.

Chatman menganggap Propp terjebak pada kerja yang kaku dan relatif serbasama dalam konteks pembahasannya terhadap elemen plot/alur berikut simplisitas pengelompokkan karakter yang dibuat oleh Propp. Dalam pandangan Chatman (p.17), model-model naratif modern seperti berita, film, drama, komik, dan novel fiksi, struktur dan elemen yang menyusunnya jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sebuah dongeng atau pun puisi.

Lebih lanjut Chatman (p.17) menuturkan bahwa ketidakserbasamaan model struktur naratif, misalnya puisi berbeda dengan film atau dongeng berbeda dengan komik, tidak berarti model-model itu bertolakbelakang sama sekali.

Ia mencontohkan bila film dan komik membutuhkan karakteristik struktur naratif seperti plot dan karakter yang mana kedua hal tersebut tidak begitu penting untuk lirik puisi, misalnya. Tetapi jika dicermati dengan seksama, dua model tersebut sama-sama menggunakan ciri-ciri kebahasaan tertentu untuk mengartikulasikan makna penceritaannya.

Secara ringkas usaha yang ingin dilakukan Chatman adalah ingin memberikan suatu pandangan bahwa elemen yang selama ini lebih dahulu muncul seperti pembahasan alur, karakter, setting, dan analisis waktu—yang lantas dikelompokkan dan dikonsepsikan olehnya sebagai elemen story—merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cara pengkomunikasian untuk membentuk struktur pemaknaan—yang disebutnya sebagai elemen level discourse. Begitu pula sebaliknya. Mungkin karena itu, kemudian teori nararif Chatman lebih banyak dikenal dengan teori story dan discourse.

Struktur narratif yang diperkenalkan oleh Seymour Chatman ini hampir serupa dengan konsep para penganut formalis Rusia yang secara lebih sederhana menggunakan dua istilah yakni fabula/fable dan plot/sjuzet. Fabula/fable merupakan dasar pengisi cerita yakni seperangkat peristiwa yang terikat secara bersama yang dikomunikasikan kepada pembaca melalui cara kerja tertentu.

Sementara plot/sjuzet ialah cerita sebagaimana dijelaskan oleh keterhubungan peristiwa sehingga menjelaskan aspek “bagaimana pembaca menjadi paham tentang apa yang terjadi”. Karenanya, kerangka konsep teori dari Chatman pada struktur naratif cerita langsung terbagi menjadi dua seperti pada konsep map di bawah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here