Migunani Tumraping Liyan, Kliping – Memasuki rumah di kawasan Sanggrahan, Maguwoharjo, Sleman itu seakan memasuki perpustakaan mini. Buku-buku akan menyambut mata kita di ruang tamu seluas 3 x 6 meter. Aneka tema dan judul akan anda temui ketika mencoba melihat satu persatu buku yang dijajar dan bertumpuk tak rapi tersebut.

Dari pendidikan, sastra, hukum, fiqh, tafsir, hadits, sampai komik bisa anda temukan dengan sedikit usaha membongkarnya. Rumah itu hanyalah rumah orang sembarangan, anda pasti tidak mengenal tuan rumahnya, Abdul Mu’thi Fithriyanto, atau biasa dipanggil Cak Moek. Pria yang jelas tidak tampan rupawan ini lahir di Gresik, 35 tahun silam.

“Oh, ini hanya titipan teman kok, hahaha.” Begitu ujarnya sambil tersipu-sipu ketika penulis menyinggung tentang bukunya yang memenuhi tembok ruang tamu tersebut. Memang, ketika ditelisik, kebanyakan dari buku tersebut bertanda milik orang lain, beberapa malah dari berbagai perpustakaan yang “belum” dikembalikan. Asyemi!, tiwasgrogi. Cak Moek pindah ke Yogyakarta sejak tahun 1997.

“Saya dulu pengen kuliah di Mesir. Namun karena kurang informasi, akhirnya telat daftar. Melihat banyak teman yang pergi ke Jogja, saya pun ikut-ikutan. Ketika teman-teman ternyata daftar di IAIN [sekarang UIN], saya pun ikut-ikutan daftar di UGM, namun karena kurang persiapan, gagal deh. Akhirnya, dengan segala daya dan upaya, Saya pun berhasil kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, dan juga berhasil mondok, itu di PP Wahid Hasyim, Gaten, Concat,” kenang Cak Moek dengan mata berkaca-kaca, tangan mengepal di dada, berdiri dengan sikap sempurna, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di awal wawancara dengan wartawan IMAGE, Kamis (20/11). 

Ketika ditanya kok tidak kuliah di Malang atau Surabaya, dia menjawab bahwa dua kota itu terlalu dekat dengan Gresik, dan tentu saja dimana-mana seantero wilayah nyepak nyandung cah Gresik saking banyaknya pelajar asal Gresik di dua kota itu. “Kuatirnya nanti kalau ada bentrokan antar suporter, bisa-bisa kita yang menang tawuran di kota orang, kan yo ngisin-ngisinke wong pribumi. Mempermalukan orang itu kan tidak sesuai dengan ajaran agama dan sifat ke-Jawa-an kita.” Lanjutnya ngasal dan sok keminter

Cak Moek menghabiskan masa kecil hingga remaja di Bungah, Gresik. Bersekolah dari TK, MI, MTs, dan Aliyah Assaadah di bawah ampuan Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. “Ndak bosen po Cak sekolah di situ terus?” “Emang mau sekolah dimana lagi? Di situ walau tidak gratis juga sudah yang paling murah. Mau mondok juga ibu masih belum ada duit, karena masih membiayai kakak-kakak saya yang juga mondok di luar.” Sahutnya sambil menceritakan betapa nestapanya ketika di usia 13 tahun ditinggal Ayahnya intiqalilarahmatillah. “Saya kuliah di Jogja saja dibiayai Pakdhe [kakak dari Ibu] dari awal masuk hingga lulus.” Kisahnya dengan mata berbinar penuh terima kasih kepada Allahu yarham pak Mad, pakdhenya. 

Setelah lulus cah lueh ini sempat pulang ke Gresik, mengabdikan diri pada almamaternya, Assa’adah dan PP. Qomaruddin sebagai tenaga pengajar selama kurang lebih satu tahun setengah. Saat itulah, “Saya menikah dengan mahasiswi UGM, gadis Kediri, yang lima hari setelah akad kembali ke Jogja nyelesain kuliahnya. Lah, daripada bojoku digondol wewe, setahun kemudian aku yomelu balik ke Jogja. Dadak malah aras-arasen kembalike Gresik. Apalagi saya juga mendapat kerjaan di Jogja. Jang kepwiisslehe duwe alas an ra bal iomah.”

Anak keempat dari tujuh bersaudara ini punya motto hidup urip neng ndonya mung mampir ngece tur migunani tumraping liyan [koyo tagline Koran KR]. Ketika diminta menjelaskan, dia hanya tersenyum ngece kepada wartawan IMAGE, mangkelke tenan. Selain bekerja sebagai PNS di Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta, beragam aktivitas social dilakoninya. Di antaranya sebagai staf kesekretariatan FKUB DIY, penggiat kerukunan bersama komunitas SPK CRCS UGM, dan aktif pula sebagai pengurus harian di lembaga Takmir Masjid Hidayatullah Sanggrahan, kampung yang ditinggalinya sekarang ini.

Ketika ditanya apa harapan untuk IMAGE di masa depan, dia malah balik bertanya,

Image itu apaan sih? Kalau dimaksudkan sebagai wadah komunikasi, jadilah Image sebagai HP yang canggih, mewadahi semua kebutuhan komunikasi warganya. Bisa untuk cakruk berkeluh kesah, berkabar gembira, dan berkasih mesra, sebagaimana medsos. Bisa untuk panggilan darurat dikala warga sangat membutuhkan. Bisa pula untuk bekerja, ngenet, nyari data, mengaji, main game, dan lain-lain. Lengkap. Asal tidak untuk mbokep, berbuat nista dan beramal dosa. Semoga!

Tulisan ini merupakan tulisan Hasan Bashori, diambil dari Buletin GAPURA, Edisi Desember 2014. Hak cipta tulisan ada pada penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here