Kliping Gusdur: Pandangan Islam tentang Pengalaman Beragama Secara Teologis, Kliping – Tipe ideal orang Islam adalah yang bisa menjadi manusia biasa. Mencari rezeki seperti umumnya seraya selalu sadar akan keadaan dirinya di hadapan Allah.

Pengalaman beragama memiliki dimensi subjektif dan objektif dalam Islam. Dimensi subjektifnya tampak ketika individu pemeluk mencapai intensitas sangat tinggi dalam hubungannya dengan Tuhan. Hubungan langsung itu yang dalam Alquran disebut tali dari Allah atau ‘Hablum Minallah’ menentukan kedekatan dirinya kepada Tuhan Sang pencipta. Kedekatan itu sendiri dalam bahasa Arab disebut ‘taqorrub Illa Allah’ bertujuan memperoleh kesadaran tertinggi akan Allah. Kesadaran tertinggi itu adalah tolak ukur bagi kedekatan optimal yang dapat dicapai manusia karena ia merupakan buah jerih lelah bertirakat (upaya ini dinamai ‘riyadhat’ dalam bahasa Arab dalam versi Jawa menjadi ‘riyadhoh’).

Kedekatan optimal yang membuahkan kesadaran tertinggi itulah yang oleh para Sufi disebut sebagai orang yang telah sampai ke tujuan (wasilun). Kesadaran akan wujud mutlak Allah itu bersifat terus menerus tanpa terputus sehingga membuahkan kesadaran akan kefanaan dirinya dihadapan keagungan dan kebesaran Allah. Kefanaan diri, self annilition, tafanni, atau kekosongan, itu manakala dapat dicapai, berarti telah memadunya kesadaran akan Allah dan mewujud Allah itu sendiri. Sang makhluk dengan demikian telah menyatu dengan Tuhannya, yang disebut Wahdaniah atay reunion yang dalam istilah Jawa disebut Manunggaling kawulo lan Gusti. Segala aturan dan pranata yang telah menghantarkannya kepada titik itu, manakala kesadaran telah tercapai, sudah tidak mempunyai arti lagi sebagai kekuatan mengikat.

Namun, sebelum sampai ke derajat sedemikian tinggi, yang dalam kebiasaan awam dianggap derajat kewalian yang ‘Sainthood’, manusia harus menjalani beberapa tahapan yang semakin lama semakin meningkat. Tahapan tahapan itu ditempuh sebagai pendakian yang semakin lama semakin sulit dilakukan; dan untuk keperluan itu ia tidak dapat berangkat seorang diri saja. Sebagai pejalan (aspirant), ia harus dipimpin oleh Sang Guru yang sudah sampai kepada kesadaran tertinggi itu.

Sebaliknya, dimensi objektif dari pengalaman beragama dalam Islam ditentukan oleh watak kemasyarakatannya. Agama ditegakkan melalui ketundukan pada aturan-aturan yang telah diwahyukan Allah, atau disimpulkan dengan tepat wahyu-wahyu itu. Aturan-aturan yang bersumber pada wahyu itu dinamai jalan hidup ‘syariah’, sering juga disamakan dengan hukum Islam, memiliki kekuatan mengikat bagi semua orang tanpa kecuali dan menuntut penerapan tuntas dari semua yang telah ditetapkan untuk menjadi pelaksana ‘mulallaf’.

Karena keharusan tersebut berlaku secara individual maupun kolektif, tergantung dari ketentuan mana yang akan dijalankan, dengan sendirinya kebutuhan lalu muncul akan sebuah sistem pengaturan, atau dengan kata lain sebuah sistem sosial, sebagaimana pelaksanaan syariah tersebut. Sistem sosial ini adalah idam-idaman kaum muslimin dan keseluruhan kesadaran secara mereka sangat ditentukan oleh pencarian sistem sosial yang paling tepat untuk mereka.

Sistem sosial atau Nizam yang memberlakukan syariah memiliki spektrum pandangan sangat luas mulai dari republik Islam-nya Khomeini, hingga panitia zakat di Masjid Kampung yang terpencil.

Pola hidup kamu muslimin dengan demikian selalu berada dalam tarikan antara dua kutub di atas, yaitu pengalaman hidup beragama yang subyektif dan yang objektif. Dengan demikian, citra ideal dari pengalaman beragama bukanlah salah satu diantara keduanya, melainkan gabungan antara keduanya. Kesalehan (ascetism, infirad) bukanlah gambaran ideal kehidupan beragama suara muslim, jika diceraikan dari penunaian tugas ke masyarakatan membentuk sistem sosial Islam itu.

Kalau ia mampu menjadi manusia biasa yang berikan kepada tugas tugas kemasyarakatan, seperti mencari rezeki untuk diri sendiri dan keluarga, namun pada saat yang sama senantiasa sadar akan kepapaan dirinya sendiri di hadapan keagungan Tuhan barulah ia menjadi tidak ideal yang didambakan.

Dengan kata lain, pengalaman beragama dalam Islam dinilai berdasarkan kemampuan mencari keseimbangan antara dimensi dalam dan dimensi luar yang memberikan corak kepada sikapnya.

Ketiga dimensi di atas, dimensi subyektif dimensi objektif dan per tahu ton kedua dimensi dalam sebuah kesadaran baru, oleh Islam dikategorikan menjadi tiga buah unsur orientatif yang bernama Iman, Islam dan Ikhsan. Dalam konsep kebulatan seperti ini, Iman adalah dimensi subyektif dari kehidupan beragama, manakala seorang muslim mampu merasakan intensitas sangat tinggi dan implikasi terjauh dari ajaran eskatologis Islam. Kesadaran akan keagungan Tuhan dan dekatnya saat pertanggungan jawab dihadapanNya di hari kiamat, merupakan motivasi yang sangat kuat untuk selalu mawas diri, jangan terlalu terikat kepada dimensi kebendaan dari kehidupan dunia.

Islam dalam kerangka penglihatan seperti ini berarti penunaian semua tugas formal keagamaan secara tuntas atau dengan kata lain pengembangan secara sosial Islam secara tuntas. Agar keduanya tidak saling terlepas satu dari yang lain, maka diperlukan kerangka lain, yaitu munculnya semangat berbuat kebajikan, yang dinamai Ihsan. Dalam pandangan ini, kesalahan pribadi baru memiliki dampak optimal, apabila dikaitkan dengan upaya menegakkan sistem sosial yang akan menjamin pemberlakuan syariah.

Pengalaman beragama yang demikian bulat, dengan unsur unsur yang saling mendukung, dengan demikian merupakan kebulatan tiga unsur di atas. Kerangka yang sedemikian sederhana tentu saja berwatak terlalu global, dan mudah dijadikan wahana untuk berbagai tujuan, yang pada analisa terakhir dapat saja bertentangan dengan tuntutan dasar Islam sendiri, seperti sistem sosial bernama negara Islam, namun yang justru mempertahankan status quo politik yang menghimpit kreativitas umat.

Terpulang kepada kita semua lah untuk merumuskan lingkup, arah dan format yang memperhitungkan watak kehidupan bangsa yang selalu ditekankan. 13.03.85

Penulis: Abdurrahman Wahid (Gusdur)
Sumber: Aula, April 1991, No. 04 Tahun XIII, halaman 53-55.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here