Tidak Ada Bahasa Tanpa Bu Jiah, Jurnal – Setiap kali menulis tentang bahasa, nama Bu Jiah selalu terngiang di benakku. Lalu terucap ribuan terima kasih yang terbungkus dalam iringan doa. Tak jarang, muncul sekelebat kenangan bagaimana beliau mengajar 30-40an mahasiswa: bersemangat, ceria, mudah, tenang, dan menyenangkan.

Jiah Fauziah, nama lengkapnya. Dosen cerdas dan inspiratif. Bukan hanya aku – dan Tim 7 – saja yang berkata demikian. Beberapa kakak kelas serta kelas sebelah juga berkata demikian, pun dosen sejawat beliau.

Aku berani bertaruh, tak ada manusia (minimal mahasiswa beliau) yang tak menyukainya. Tiga tahun mengulang mata kuliah English Phonetics and Phonology, aku sering bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa baru tentang kesannya pada Bu Jiah. Semua jawaban selalu baik.

Ada banyak alasan kenapa mahasiswa akan menyukai Bu Jiah: sering memberi semangat, perhatian, pengertian, metode pengajaran nyaman, mudah dimengerti, dan hal baik lainnya. Dan memang patut diakui keanggunan aura beliau. Ada bahkan seorang kawan yang berkata padaku, “Melihat senyum Bu Jiah saja hariku pasti berwarna.”

Tapi bagiku, sekali lagi, Bu Jiah adalah sosok guru yang pertama membuatku jatuh cinta pada bahasa. Puluhan tulisan-tulisanku mengenai bahasa tak kan lahir tanpa Bu Jiah. Kompleksitas teori-teori bahasa bak sekedar permainan susun-menyusun mainan anak-anak: menyenangkan.

Bu Jiah dan Fonetik-Fonologi

Sebagai atom dari bahasa, fonetik punya peran penting di hampir seluruh ilmu bahasa. Di benakku, bicara fonetik-fonologi selalu yang pertama kali terngiang adalah Bu Jiah — baru kemudian Saussure, dkk. Aku yakin ada kawan-kawan juga merasakan hal yang sama. Wajar sih, memang beliau adalah pengajar matakuliah English Phonetics and Phonology (EPP). Tapi bagiku lebih dari itu.

Tiga kali aku mengulang matakuliah EPP. Yang pertama kali, di semester 2, aku meremehkan EPP. Waktu itu, aku berkeyakinan, “Makanan apa EPP itu? Apa sih bahasan kok ribet banget. Disuruh ngapalin, nranskrip phonetic alphabetic, di kamus juga kan ada. Apa pentingnya juga. Kan aku anak sastra.”

Ya, itu salah satu kesalahan terbesarku dalam hidup — ngapuntene Bu nggeh. Di semester itu juga aku (sok) sibuk jadi aktipis. Plus masuknya jam 7 pagi. Wkwkwkwk… Karenanya, EPP di semester 2 aku mendapat plat Cirebon.

Di semester 4, aku ngambil lagi. Tak lain karena matakuliahnya wajib. Beberapa matakuliah prasyarat. Jatah KRS terbatas. Ya, terpaksa. Aku mengulang bersama Kuplek. Mencoba berubah. Meski jam 7, tetap saja dipaksa masuk. Toh, bisa kalaupun ketiduran bisa ngambil yang jam kedua 8.45. Pun menurut gosip yang beredar, matkul Bu Jiah yang penting masuk kelas.

Gosip ya gosip. Benar aku dan Kuplek masuk kelas, tapi masuk kelas juga pasti dengar penjelasan, praktek konsonan-vokal, nulis, mikir, daannn dapat tugas. Di pertemuan ke 4-5an sudah mulai banyak godaan. Tapi kayaknya di sini lah aku terslenting. Pertanyaan di awal, “Apa pentingnya Fonetik-Fonologi bagi nusa-bangsa-agama?”, pada akhirnya terjawab.

Bu Jiah bilang — kurang lebih, “Fonetik-fonologi itu seperti ilmu makhorijul huruf kalau dalam Bahasa Arab. Bagaimana cara membaca lafaz Alquran yang baik dan benar. Makanya, kita harus tahu dan bisa. Karena kalau lafaz yang diucapkan tidak tepat, bisa sangat merubah makna.”

Perkataan Bu Jiah itulah yang kemudian membuka mataku. Sebenarnya alasan yang religius itu tak begitu membuka mataku, tapi lebih karena alasan logisnya: Fonetik sangat merubah makna. Kalau tidak salah, kenapa kok itu sangat membuka mata, begini ceritanya: Sebelumnya, aku memang sudah membaca Sausurre. Semester tiga aku cuti dan lebih sering sekolah di perpustakaan dan warung kopi — pendidikan formal tak lain hanyalah kapitalisasi (hehe). Dan di buku Saussure juga banyak membahas Fonologi di bagian awal-awal. Tapi membaca Saussure sangat membingungkan, njelimet, dan berat. Terucap dalam hati, “Linguistik peteng banget. Sastra ae wes.” Dikotomi-dikotomi Saussure di waktu itu tampak biasa-biasa saja. Tapi tatkala mendengar sekelumit ucapan Bu Jiah itu, semua jadi terlihat mulai terang.

Tapi sepertinya, menurutku saat ini, karena memang waktu itu aku kebetulan dapat barokah ilmunya Bu Jiah. Suatu keberuntungan saja. Wallahu a’lam. Bagaimana tidak, dengan dasar itu, ilmu-ilmu bahasa seperti morfologi, sintak, semantik, pragmatik, dan ilmu sejenis, jadi mengasyikkan.

Memanusiakan Manusia

Sewaktu mengajar, Bu Jiah seolah tahu kemampuan masing-masing mahasiswa. Pun cara mengajarnya juga bisa dibilang mudah dipahami. Sering memberikan perumpamaan-perumpaan. Contoh yang diberikan juga mudah dipahami. Dan sering memberikan penjelasan di papan tulis, meskipun sudah ada modul. Jadi modul yang di print A5 itu sering banyak coretan.

Tapi ya entah kenapa masih sulit untuk aku pahami. Sulit hafal dan sulit nemu selanya — ancen pekok kok. Jadi tugas-tugas seringnya nyontek.

Di akhir-akhir aku pernah ngumpulin tugas langsung dan konsultasi dengan Bu Jiah. Aku masih ingat, saat itu Bu Jiah berkata kepadaku:

“Maghfur, kamu itu sebenarnya bisa. Tidak perlu nyontek. Ibu malah tidak suka itu. Kalau kamu di analisis fonologi saja tidak paham, kamu akan kesulitan untuk ke tingkat selanjutnya. Suka tidak suka, kamu harus belajar ini. Sekarang ibu tanya, kamu yang tidak paham di mana?”

Mengulang EPP kedua ini lolos. C+. Tapi jujur saja, masih butuh untuk mengulang lagi. Bukan karena C+ nya, tapi memang sudah kutekadkan, pun masih kurang paham. Dan di tahun berikutnya aku mengulang lagi. Sendirian.

Di waktu mengulang yang ketiga inilah, aku mulai agak sering bicara dengan Bu Jiah. Bu Jiah membebaskanku untuk masuk kelas atau tidak. Babakan fonetik-fonologi agak lancar. Lebih ke praktek. Nganggur-nganggur nganalisis fonetik iklan, puisi, dan sebagainya. Asyik sekali, bagaimana bunyi /t/ dalam satu iklan itu bunya beberapa bentuk, bagaimana stress dalam iklan, dan sebagainya.

Aku masih ingat, waktu itu aku seperti anak kecil yang dapat mainan baru. Apalagi sudah paham teori, morfologi, sintak, dan semantik. Di semester ini juga aku ngambil pragmatik, yang juga diampu Bu Jiah. Intensitas konsultasi pun semakin sering. Dan setiap kali konsultasi, Bu Jiah pasti akan selalu memberi semangat. Sering juga Bu Jiah memberikan kata-kata motivasi. Bu Jiah juga banyak memberi quote pada mahasiswa di kelas.

Yang paling kuingat — dan mahasiswa lain — mungkin:

jangan memperumit dirimu sendiri.

-Jiah Fauziah

Ya Allah, Bu Jiah. Terima kasih, Bu. Sehat-sehat di surga, Bu. Besok kalau dipertemukan lagi di sana, masih boleh belajar lagi ke sampean Bu ya? Aminn..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here