Ulasan Buku Angin Musim Mahbub Djunaidi, Ulasan Buku — Sebagai kucing perempuan atau perempuan, atau betina lebih tepatnya, dengan panggilan Si Kuning, sekonyong-konyong Mahbub Djunaidi dimasukkan dalam karung semen seorang petugas berseragam dril berwarna kuning kecoklatan. Lalu ia diangkut dan dilepas di sebuah bangunan bertembok tinggi dengan ujungnya berhias kawat beranyam: penjara, atau penjara politik, atau menurut dia beserta rehabilitasi – kata ia sendiri tidak tahu makna dan fungsinya. Di sana ia diberi tugas membantu petugas, bersama dengan kucing-kucing lain, untuk mencegah invasi kaum tikus. Setelah bercerita perihal orang tuanya – blasteran kucing peliharaan wedana dan peliharaan pemborong – ia mulai mengamati para penghuni penjara, atau rehabilitasi, mulai dari latar belakang, bentuk fisik, gaya bicara, gaya tertawa, gaya menangis, hingga perilaku-perilaku mereka di setiap blok penjara. Langkah yang terlampau cerdas untuk ‘seorang’ dari bangsa non-manusia: kategorisasi.

Dari bangsa manusia, Stakeholders penjara itu, sebelum menjadi tahanan politik (dalam arti yang tidak juga ia bisa mengerti pasti), mempunyai beragam profesi: mantan menteri tanpa portofolio, mantan penyair, mantan wartawan, mantan jenderal, mantan pejabat tinggi perusahaan kereta api, mantan seniman sekaligus penyair, serta anak-anak muda mantan mahasiswa. Sementara dari bangsa non-manusia, selain bangsa kucing, penjara politik itu dihuni rusa, ayam dan tikus. Kesemua instrumen penjara politik itu ia petakan sesuai kadar kelebihan-kekurangan dan fungsinya. Dengan demikian, sebagai kucing pragmatis, meski dihantam oleh beragam cobaan dan hambatan, ia tetap berhasil survive hidup sampai penjara itu akan dirobohkan dan diganti menjadi hotel. 

Memang, cerita dalam novel Angin Musim, berkutat mengenai kehidupan para penghuni penjara, baik manusia maupun non-manusia. Plotnya sederhana: dia dibawa di penjara dan dia diberi tugas utama memburu tikus yang berkeliaran. Namun di situlah kelebihan pertamanya: kesederhanaan itu kemudian menjelma sebagai sesuatu yang begitu pelik, seperti benang ruwet, berbelit-belit dan pikiran manusia (hlm. 157). Pembaca tidak akan merasa bosan walaupun alur ceritanya begitu sederhana. Sebagai kucing, tentu tugas bukan persoalan sama sekali. Tapi sebagai Mahbub Djunaidi, tugas itu bukan tugas yang mudah: persoalan yang sebenarnya adalah tentang kebebasan dan hidup bermasyarakat. Ketika ia menjadi kucing di pasar, memburu tikus merupakan tugas naluriah. Sementara, ketika di penjara, ia sengaja diletakkan dan dimanfaatkan oleh penjaga untuk mengurangi beban si penjaga. Ia pun merasa tidak lagi bebas: memburu tikus bukan lagi tugas naluriah, melainkan tugas sistemik. Karenanya, pada akhirnya, ia mengajak sebangsanya dan bangsa tikus untuk bermusyawarah mufakat, demi ketertiban bermasyarakat, serta demi bentuk perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan penjaga keamanan penjara.

Kelebihan kedua novel Angin Musim, sebagaimana karya tulis Mahbub Djunaidi, terletak pada gaya bahasanya yang penuh jenaka, satir, sarkas dan personifikasinya. Hampir tiap halaman, pembaca selalu disuguhi hidangan itu, dan saya yakin pembaca akan tertawa geli sekaligus merasa tersadarkan, misalnya: penyair… jenis pekerjaan yang paling sulit di dunia, jauh lebih sulit dari pengrajin anting-anting perempuan, bahkan melebihi kemusykilan tukang tenung (hlm. 71); seakrab-akrab kucing dengan penghuni bangsa manusia, buang hajat besar di kamar mereka dapat dianggap suatu pemberontakan (hlm. 121); atau personifikasinya yang lucu “Apapun urusan dan pangkat mereka di luar tembok, jika sudah masuk penjara hampir-hampir tak bisa dibedakan antara satu sama lainnya, tak ubahnya seperti jarum pentul dalam satu dus jajan pasar (128); dan banyak lagi lainnya. Boleh dikatakan pula, Angin Musim bukan novel yang  mengajak pembaca untuk mengkritik sosial lalu melakukan protes beramai-ramai, melainkan novel  yang mengajak pembaca untuk tersenyum-senyum sendiri. 

Kelebihan ketiga novel Angin Musim terletak pada teknik penceritaan atau sudut pandang. Kadang penulis menjadi pelaku cerita, terutama saat menjadi kucing dan memposisikan diri menjadi pelaku utama (saat revolusi kaum kucing dan tikus misalnya). Tapi kadang penulis juga menjadi orang lain yang serba tahu, terutama saat menjelaskan atau menceritakan segenap “sosok penghuni penjara”. Si kucing, atau penulis, pada saat itu ia memposisikan diri sebagai pengamat (dan memang Mahbub Djunaidi begitu lihai mengamati). Namun kadang ia juga “berlagak” tidak tahu menahu atau cuek dengan segala persoalan, dengan alasan, “apa daya aku hanyalah seekor kucing belaka.” Karena itu, pembaca seolah-olah akan merasa sewaktu-waktu menjadi seekor kucing dalam arti yang sebenarnya serta sewaktu-waktu akan merasa menjadi sosok yang yang benar-benar di luar cerita atau pengamat.

Selain ketiga kelebihan itu, sebenarnya masih banyak kelebihan-kelebihan lain yang membuat Angin Musim menjadi bacaan yang menyenangkan, misalnya: menggambarkan situasi politik tahun 1970-an, banyak mengandung petuah-petuah bijak, ironi, paradok, dan unsur-unsur kesastraan lainnya. Akan tetapi, perlu menjadi catatan bagi pembaca Angin Musim, bahwa sebagian besar kalimat dalam Angin Musim merupakan kalimat majemuk. Karena itu, pembaca (terutama yang tidak terbiasa dengan penggunaan kalimat majemuk) mungkin butuh kesabaran dan ketelitian lebih untuk bisa memahami setiap kalimat yang tertulis di novel Angin Musim.

Angin Musim pertama kali diterbitkan tahun 1985 oleh penerbit Inti Idaju Press. Novel tersebut dicetak ulang oleh Diva Press dengan Athena sebagai penyunting dan Sukutangan sebagai penata sampul. Jika menilik dari teks novel, maka bisa dikatakan bahwa novel tersebut dibuat sekitar tahun 1975, sebagaimana tertulis, “Saudara-saudara, kita semua berdiri di sini mengenangkan hari keramat, tiga puluh tahun yang lalu, bukan mustahil kita sama-sam bertempur melawan musuh gandeng-bergandeng~” (hlm. 162).  Jika menilik biografi Mahbub Djunaidi, tahun 1975 adalah tahun di mana ia memenangkan Sayembara Sastra Dewan kesenian Jakarta, sementara tahun 1978, ia dipenjara dikarenakan sering mengkritik pemerintah dan dituduh subversif. Mungkin karena itulah, di akhir bagian Angin Musim, penjara kedatangan ‘tamu’ para mahasiswa yang juga ditangkap karena dituduh “menyuarakan hati nurani.”

Mengenai buku yang dicetak ulang Diva Press, entah kenapa, Diva Press di bagian awal tidak menyertakan kata pengantar sebagai bahan pertimbangan, alasan penerbitan ulang, perbedaaan atau persamaan dengan terbitan sebelumnya, atau sekedar pengantar mengenai isi novel secara ringkas. Di terbitan awal disebutkan terdiri dari 176 halaman, tapi di terbitan Diva Press terdiri dari 317 halaman. Pembaca pun mungkin akan bertanya-tanya, kenapa terpaut begitu jauh. Bahkan Diva Press tidak mencantumkan daftar isi di buku tersebut. Ini mungkin hal sepele, namun saya rasa penting bagi pembaca untuk mendapatkan pengantar dan daftar isi demi kepentingan kenyamanan membaca.

Dalam ulasan buku Angin Musim ini, secara umum, novel ini sudah banyak diulas atau dianalisis, diantaranya: resensi Putu Setia, dalam Tempo, 42/XV, 14 Desember 1985; review Budiawan dalam majalah Mutiara 378, Rabu 30 Juli—12 Agustus 1986; Jakob Sumardjo, “Angin, Kucing, dan Manusia” dan dimuat di Pikiran Rakyat, Selasa 7 Februari 1986. Dalam tulisannya, Jakob membandingkan Angin Musim dengan Animal Farm karya George Orwell. Menurut Jakob, Animal Farm secara konsisten menceritakan kehidupan binatang yang menyindir kehidupan manusia sementara Angin Musim tidak secara konsisten memakai teknik bercerita semacam itu; dan Budiarto dalam tulisannya “Ensiklopeia Seekor Kucing: Melihat Indonesia Lewat Penjara” yang dimuat di Kompas, Minggu, 12 Januari 1986 ( lebih lengkapnya lihat ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Angin_Musim). Ulasan Buku Angin Musim itu bisa menjadi rujukan untuk memperdalam pembahasan Angin Musim.

Novel Angin Musim untuk masa sekarang memang sangat dibutuhkan, terutama di saat musim politik yang sedang panas-panasnya. Dengan membaca novel ini, pembaca akan terbuka pemikirannya dan tidak kaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here