Ulasan Buku Salah Asuhan: Balela Adat, Secuil Cerita untuk Abdoel Moeis, Ulasan Buku — Namaku Hanafi, terbit tahun 1928, dari tangan seorang penulis bernama Abdoel Moeis. Sepuluh tahun lagi umurku seabad.

Sampai sekarang, di makam Soko Anau aku masih mendengar kalian menggunjingkan darmawisataku. Di satu sisi, saya suka. Saya suka karena manusia-manusia di negeri – negeri yang tak pernah kuyakini bisa merdeka – ini menganggapku sebagian dari mereka. Di sisi lain, saya benci. Saya benci karena selama itu tak pernah ada satupun orang yang berusaha mempertemukanku dengan Rapiah, Corrie, dan Sjafi’i. Aku benar-benar merindukan mereka.

Mereka lebih menghisab kesalahanku menentang adat, sok modern, atau yang lain. Ayahku pun memberi judul Salah Asuhan. Jelas sekali artinya: Sjafi’i jangan diasuh sepertiku karena aku salah.

Tak masalah! Aku bisa mafhum. Hidup juga memang tak pernah tidak begini-begini aja.

Sudah watakku untuk menjadi manusia perusuh. Tapi bagaimanapun, aku tak pernah menentang rasa cintaku pada Corrie. Bahkan demi dia pun aku berani mempersembahkan kewarganegaraanku seperti gadis mengikhlaskan perawannya. Jangan kalian pikir itu karena aku tidak suka dengan adat Melayu (atau Minangkabau), tapi berpikirlah bahwa itu demi cintaku pada Corrie. Apakah itu salah? Tergantung! Cinta, sebagaimana kurasa, menembus batas Barat><Timur, pribumi><non-pribumi, atau dikotomi-dikotomi lain. Jangan kemudian kalian menghakimiku dengan mengatakan bahwa aku adalah pengkhianat. Nasionalis belum hadir, bung!

Corrie pun … intinya, kita mau mengorbankan apapun demi mencapai keagungan cinta. Bahkan ia berani melawan keputusan orang tuanya dan dijauhi teman-temannya. Berakhir buruk, penyakit kolera, kesombonganku, atau watak keras kepalaku dan suka berburuk sangka, itu lain soal. Ayahku mengada-ada, membuat bumbu-bumbu, demi kepentingan kelezatan. Persoalannya adalah kenapa kalian – melalui diriku – selalu mengira kawin paksa itu kejam, membunuh cinta yang mulia, dan selalu berakhir tragis? Bah!

Sedang Rapiah, yang melahirkan Sjafi’i, kalian pikir aku tidak memperdulikan dia sama sekali dan aku tak ingin meminta maaf padanya? Oh! Betapa dungu kalian. Ayahku memang mengatakan, selama dua tahun aku hidup denganya, aku tak pernah peduli padanya. Kalian pikir Sjafi’i buah kesombonganku?

Begini saja, Ibuku, Sutan Batuah, atau yang lain boleh menganggap hidupku tiada guna. Beberapa dari kalian juga boleh saja menganggapku seperti itu. Tapi aku hanya ingin adat mengingatku. Adat harus mengeluarkan dekrit terima kasih kepadaku.

Aku adalah salah satu replika buat kalian yang ingin balela adat. Balela adat berarti penyesalan seumur hidup, mungkin juga seumur mati. Semakin keras kalian menentang adat, semakin kuat pula adat itu.

Kalian tidak bisa balela adat. Tapi, meskipun kalian balela adat dengan menggebu-gebu, adat tetap akan memaafkanmu. Seperti aku yang tetap diterima di pemakaman Solok setelah warga Koto Anau berdebat keras untuk menolak pemakamanku.

Kawin paksa, kawin karena terpaksa, bukanlah hal yang buruk seperti yang kalian bayangkan. Kawin paksa tidak pernah berniat membunuh cinta. Ia hanya memberikan kita pelajaran untuk memperluas pandangan kita mengenai cinta. Persoalan kawin paksa dan cinta bukan saling menjatuhkan, melainkan saling menjunjung.

Tidakkah kalian merasa, cinta adalah sebuah metode pengajaran hidup?

Note: Ulasan Buku Salah Asuhan ini ditulis pada November 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here