Buku Cyber Graffity: Polemik Sastra Cyber, Ulasan Buku Cyber Graffity: Polemik Sastra Cyber merupakan kumpulan 31 esai mengenai sawala sastra siber.  Digawangi oleh Saut Situmorang, buku tersebut menjadi gelanggang beringsang rana sastra siber antar dua kubu: kubu pro(tagonis) dan kubu kontra(diktif). Dari penjelmaannya, buku Cyber Graffity: Polemik Sastra Cyber adalah reinkarnasi buku Cyber Grafitty – prahara yang pernah diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra (YMS) bersama Penerbit Angkasa di tahun 2001. Sampai tujuh belas tahun kemudian, prahara Cyber Grafitty – bersama Grafitty Gratitude – masih belum surut kesengitannya, bahkan terkesan semakin menantang.

Gelanggang beringsang rana sastra siber, dalam ulasan buku sastra siber ini, setidaknya dikarenakan tiga sawala: pertama, sawala terkait wujud (form). Di kubu kontra, Faruk HT misalnya, mengatakan bahwa ketika bicara karya sastra mengimplikasikan bicara buku. Belum pantas dikatakan karya sastra jika bukan dalam wujud buku: buku merupakan sesuatu yang mandiri, sesuatu yang berbatas jelas-tegas dan sesuatu yang utuh. Sementara di kubu pro mengatakan, sastra siber merupakan transformasi lanjutan (sintesis) dari sastra tulis dan sastra lisan. Sastra tidak melulu mewujud buku. Kedua, sawala terkait posisi. Di kubu pro, Saut misalnya, mengatakan bahwa posisi sastra siber adalah untuk melawan hegemoni “polisi sastra bernama editor dan redaktur” karena  sastra siber diuntungkan dengan sifat alaminya, yakni demokratis. Sementara di kubu kontra, Prasetyo misalnya, mengatakan bahwa posisi sastra siber tidak selalu harus dilawankan dengan sastra dominan, tapi setara dengan “sastrawan muda”. Prasetyo mengingatkan, generasi sastrawan muda selalu muncul melalui media atau forum yang “dikontrol” oleh generasi yang lebih tua, dengan perangkat sistem, acuan dan nilai yang lazimnya berbeda.  Ketiga, sawala terkait estetik. Mungkin, sawala ini adalah sawala paling beringsang dan paling banyak dibahas di buku ini. Hal itu terlihat dari berjubelnya frase nomina ajektif-kontradiktif tercipta di sawala ini: sastra tong sampah dan siberpuitika, sastra prasmanan dan sastra individual, sastra main-main dan sastra serius, sastra digital dan sastra cetak, sastra demoktratis dan sastra tiranik-otoriter, (kritikus) sastra tai kucing, dan variasi frase nomina ajektif-kontradiktif lainnya. 

Masih banyak sawala lain yang begitu sengit dibahas di buku Cyber Graffity: Polemik Sastra Cyber, misalnya sawala mengenai kategori (apakah sastra siber hanya melulu puisi dan cerpen, atau novel juga bisa digolongkan sastra siber jika dipublikasikan di dunia maya?), sawala mengenai golongan (apakah sastra siber merupakan angkatan baru atau tidak?”), sawala mengenai jenis (sastra audiovisual?) dan semacamnya, belum lagi sawala mengenai royalti. 

Di luar semua sawala dan rana beringsang sastra siber, membaca buku Cyber Graffity: Polemik Sastra Cyber saat ini (2019), akan memberikan satu keistimewaan tersendiri: pembaca akan merasakan kejenakaan (maafkan kata-kata saya) yang bercampur dengan sembilu. Pembaca merasa jenaka karena pembaca akan berhadapan dengan lema lama yang bagi generasi muda saat ini begitu asing, misalnya: mailing list, yahoo.com, rocketmail, eGroups, MiRC, homepage, MS-DOS, Dos-Prompt, cassete (kaset), cakram liuk, disket, CD-ROM, walkman dan yang lain. Apalagi, di buku tersebut disebutkan disebutkan bahwa pada tahun 2002 di Yogyakarta pernah meluncurkan Antologi Puisi Digital Cyberpuitika berformat antologi baru, yakni dalam bentuk CD. Pembaca akan tertawa membaca cerita itu di masa sekarang ketika CD-ROM adalah asing di telinga kita. Sementara, pembaca juga akan merasa sembilu karena sawala sastra siber saat itu bagai benang kusut yang mustahil terurai. Sawala itu akan bertambah pelik ketika kita mengingat pelajaran SMA kita bahwa sastra adalah penawar keresahan hidup yang kian bising dan awut-awutan.

***

Dari tiga puluh satu tulisan, buku Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyber, sebagai kumpulan tulisan, sayangnya, tidak disusun secara serius dan terkesan asal mengumpulkan. Pembaca akan kesulitan memahami keseluruhan isi buku jika membaca secara normal dari awal sampai akhir. Tulisan-tulisan itu akan lebih baik jika disusun berdasarkan tema, nama, periode atau kubu sehingga pembaca bisa sedikit terbantu dalam memetakan isi dan kandungan sawala sastra siber. Selain itu, sebagai edisi reinkarnasi, sepatutnya diberi penjelasan mana tulisan yang asli dari buku Cyber Graffiti edisi pertama dan mana yang diperbarui dan direvisi. 

Saya pikir, saya akan menemukan awal mula kemunculan sastra siber di Indonesia di buku Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyber. Akan tetapi, sepanjang buku saya tidak menemukan kajian serius mengenai sejarah sastra siber Indonesia. Padahal itu sejarah sastra siber itulah yang menurut saya penting saat ini agar generasi muda bisa tahu bagaimana langkah sastra siber ke depan agar lebih baik, mengingat sekarang sastra siber sudah mengindikasikan kemenangannya. Lihat saja misalnya novel Aroma Karsa versi digital, media daring basabasi.co yang memberikan royalti (cukup besar) kepada penulis dan tulisan itu hanya terbit secara daring. Intensitas sawala sastra siber saat ini memang menurun, tapi tak berarti sawala itu selesai, malah terlihat semakin rumit. Penyelesaiannya bisa saja sederhana, bahwa sastra siber dan sastra nonsiber (cetak) adalah komplementer, bukan kompetitor. Namun kita akan selalu kembali pada rana sawala, misalnya apakah seseorang yang menulis puisi di beranda facebook atau bahkan terbit di media daring basabasi.co bisa dikatakan sebagai penyair.

Pelacakannya memang sulit, Faruk HT menyebutkan setidaknya cybersastra.com, yang katanya pionir sastra siber Indonesia, sudah beroperasi sejak 29 April 1999. Karenanya, mungkin tugas kita bersama sebagai generasi muda, dengan bimbingan para orang tua, kita harus bisa melacak bagaimana sejarah sastra siber di Indonesia. Sastra siber adalah fakta objektif dan kita tidak bisa menyangkalnya.

Akhir kata, secara khusus, saya berterima kasih kepada Katrin Bendel. Tulisannya mengenai novel Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh memberikan satu gambaran, bahwa sastra juga bisa menjadi taman bermain yang menyenangkan. Saya jadi teringat, sastra bukan melulu soal makna, bentuk, eksistensi, atau bahkan royalti, tapi sastra juga merupakan suatu keseruan dan kenikmatan. Dalam sastra, logika dan cara berpikir kita dijungkirbalikkan. Dan di situlah, menurut saya, nikmat dan keseruan sastra berada.

Pada akhirnya, bagi para akademisi, kritikus sastra atau kalian yang ingin mencari keseruan-keseruan sawala sastra siber di Indonesia, ulasan buku sastra siber ini Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyber merupakan buku yang tepat untuk anda, karena bisa dikatakan bahwa buku tersebut merupakan rekam jejak lengkap pertama sastra siber di Indonesia yang non-siber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here