kau terkelupas menemani api. Baju sucimu tak rapi lagi. Kau lupa lalu puisi api. Api yang sombong. Api yang menakutkan. Berkobar melahap baju sucimu. Kau berlari diatas tanah, terbang di atas angin, tapi tenggelam dalam laut. Orang-orang acuhkanmu. Orang-orang membencimu. Namamu selalu menghancurkan birahi. Namamu menciptakan kehitaman asa. Hatimu menerimanya dengan senyuman.

Bosan aku membacamu. Letih daku melihatmu. Kau dekatiku saat aku meninggalkanmu. Pergi datang sesukamu. Tak sopan. Aku berkata “Kau, aku tak ingin berumur lagi. Asaku hancur karena seranganmu tak pernah tidur”. Kau balas “aku hanya berlayar dalam hembus nafas hatimu. Tak lebih”. Lalu kau memukulku. Kau membakarku dengan apimu yang biru. Panasnya kurasa selalu. Lalu kau membisikkan: “sebentar lagi aku akan sampai di ujung nafasmu”. Ya, remuk telah nyata di depan mata. Ingin aku berkata padamu: “aku harap kamu meleset. Jujur, tak sudi diriku kau sentuh”.

-November 20, 2011 pukul 1:11

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here